Selasa, 25 Februari 2014

Perilaku Kekerasan di Kalangan Anak & Remaja



Solusi terhadap perilaku kekerasan di kalangan anak dan remaja dalam rangka mewujudkan Ketahanan Nasional yang kokoh



Abstrak

Latar Belakang
Saat ini terjadi peningkatan jumlah perilaku kekerasan yang mengarah kepada tindak kriminalitas. Fenomena yang sering terjadi adalah pemukulan terhadap junior oleh seniornya di lembaga pendidikan, tawuran antara pelajar/mahasiwapertikaian antarkelompok, perusakan terhadap fasilitas umum akibat frustasi, pornografi. Kasus ini banyak terjadi pada remaja. Hal ini menunjukkan telah terjadi pergeseran nilai-nilai di masyarakat. Akumulasi dari perilaku kekerasan seperti di atas berdampak pada ketahanan nasional.
Ketahanan Nasional merupakan muara dari ketahanan individu, ketahanan keluarga, dan ketahanan lingkungan sosial mayarakat.  Ketahanan dimaknai sebagai suatu bentuk ketangguhan sekaligus fleksibilitas untuk tetap mampu survive dan berkembang meskipun harus menghadapi berbagai berbagai permasalahan.  Ketahanan tidak dapat terjadi dengan sendirinya, namun merupakan suatu proses panjang dan latihan yang bertahap, serta berkesinambungan.  
Pengaruh dari lingkungan strategis, secara global, regional dan nasionak turut memberikan pengaruh yang signifikan bagi upaya memperkokoh ketahanan nasional tidak selalu bersifat positif, namun banyak pula yang bersifat negatif.  Meskipun demikian, dengan kemauan dan upaya bersama untuk dapat mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan dengan cara mengembangkan (To promote), melindungi (To protect), dan mengapresiasi (To respect) harkat martabat sesama manusia  dengan leading sector Pemerintah  agar setiap anak dan remaja memiliki ketahan diri, sehingga diyakini akan mampu memberikan solusi terbaik dalam menangani perilaku kekerasan yang kerapkali terjadi saat ini.




Read more >>

Kamis, 13 Februari 2014

Aksi Masa

Menjelang Pemilu tahun 2014 ini diantisipasi akan terjadi kumpulan orang untuk berkampanye, bisa juga aksi-aksi protes massa...mungkin perllu juga yaa buat tulisan tentang pemikiran tentang alternatif solusi dalam menangani kekerasan massa ditinjau dari perspektif psikologi massa.......tunggu bentar yaa sedang ditulis...
Read more >>

Selasa, 07 Mei 2013

Pemeriksaan Psikologi (Psikotest)



Mengenang sesepuh psikologi yang sangat saya hormati & sayangi, serta dijadikan panutan.....berikut salah satu tulisan beliau yang perlu untuk dipahami......


Sekilas tentang Pemeriksaan Psikologi (Psikotest)
Salah Satu Buah Pemikiran Almarhum Brigjen TNI (Purn) Soemarto, Dipl. Psych

Psikotest dapat didefinisikan sebagai suatu metoda untuk mendapatkan suatu sampel tingkah laku seseorang dalam situasi yang standar. Dapat dikatakan juga bahwa test adalah suatu ‘contoh’ tingkah laku dalam situasi. ‘Contoh’ tersebut diregistrasikan sebagai hasil test dan merupakan tingkah laku yang akan selalu ditunjukkan oleh seseorang dalam situasi yang sama. Situasi yang standar diartikan sebagai kondisi-kondisi yang sama bagi semua orang yang ditest. Jadi Psikotest bukanlah dapat disamakan dengan ujian mengenai pengetahuan. Psikotest bukanlah sesuatu yang perlu dipelajari atau dipelajarkan. Banyak orang yang salah mengerti tentang Psikotest, terutama orang-orang yang menganggap test itu dapat dipelajari dan mereka yang berorientasi pada status, bukan prestasi, sehingga mereka berusaha mempelajari Psikotest dengan cara-cara tertentu dan melakukan pemalsuan atau penipuan (cheating) dengan pertolongan seseorang yang sedikit tahu tentang Psikotest atau bahkan dari seorang psikolog yang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian ia mengira akan mempunyai kesempatan untuk maju dalam karirnya. Tetapi dengan demikian justru ia menipu diri sendiri dan merugikan organisasi.
Adapula orang yang merasa takut jika ia diharuskan menjalani pemeriksaan psikologi, karena sebetulnya ia kurang memahami Psikotest secara betul. Mungkin sikap seperti itu juga dibarengi dengan kecurigaan yang berlebihan ataupun rasa kurang pasti pada diri sendiri. Tentu hasil Psikotest mereka itu tidak akan menggambarkan kemampuan yang sebenarnya, dan bahkan hanya memperlihatkan segi tertentu dari watak atau kepribadiannya saja. Oleh karena itu sebaiknya dalam menghadapi Psikotest orang bersikap wajar dan tidak dibuat-buat, namun sungguh-sungguh mengikuti instruksi pengetest atau psikolog yang memeriksanya.
Lain halnya dengan orang yang atas kehendak sendiri meminta bantuan kepada psikolog untuk diperiksa. Ia akan mengahadapi pemeriksaan psikologi dengan sikap yang lebih terbuka. Maka hasil suatu test sangat tergantung pula kepada sikap yang menjalani test di samping kepada situasi pemeriksaannya. Situasi pemeriksaan perlu diciptakan sewajar mungkin dengan kerja sama dan saling mempercayai antara pemeriksa dengan yang diperiksa. Untuk itu diperlukan waktu yang relatif cukup agar psikolog benar-benar dapat menciptakan suasana at ease bagi yang diperiksa. Dengan demikian orang yang meminta bantuannya akan merasa sangat bebas untuk mengutarakan pikiran, pendapat dan perasaannya baik secara lisan maupun tertulis. Suasana yang penuh minat dan kebebasan itu hanya dapat diciptakan oleh psikolog yang terampil dalam menyajikan test yang memenuhi standar. Mahasiswa psikologi biasanya dilatih untuk mengembangkan keterampilan semacam itu.
Namun dewasa ini, di Indonesia ternyata banyak orang bukan psikolog juga memiliki Psikotest dan menggunakannya dalam rangka seleksi, klasifikasi atau penjurusan studi. Sepintas lalu tampaknya memang sangat mudah menggunakan alat pemeriksaan yang disebut Psikotest itu, asal berpedoman kepada instruksi, cara menghitung (menskor) dan mengevaluasi data, yang biasanya lengkap tersedia bersama alat test itu disertai dengan norma dan validitasnya. Mungkin pekerjaan itu dapat disamakan dengan mengukur tekanan darah dengan mudah oleh siapa saja yang cukup cerdik. Akan tetapi sebenarnya pekerjaan semacam itu menuntut selain pengetahuan yang dalam tentang Psikotest juga tanggung jawab profesional dan alangkah naifnya jika tanggung jawab profesional sekaligus sosial itu dikesampingkan begitu saja. Oleh karena itu, orang harus berhati-hati dalam meminta bantuan psikologi dan perlu mewaspadai praktek psikologi yang kurang memperhatikan tanggung jawab profesional dan sosial itu.
Sebaiknya para calon pengguna jasa psikologi meminta penjelasan dulu kepada ‘psikolog’ atau orang yang memakai Psikotest sebagai salah satu cara menjual jasa, tentang curriculum vitae yang bersangkutan, terutama apakah ‘psikolog’ atau oknum lain itu benar-benar mampu dan berwenang untuk melakukan profesinya dengan menggunakan Psikotest. Hal ini penting agar para calon pengguna jasa psikologi tidak terjebak oleh catatan yang tidak bertanggung jawab.
Psikotest dapat dilakukan secara individual dan berkelompok. Pelaksanaan testing yang dilakukan secara individual atau berkelompok (klasikal) harus memperhatikan syarat-syarat tertentu yang standar, seperti ruangan yang cukup penerangannya, mempunyai hawa segar, penyampaian instruksi yang jelas, mudah dimengerti dan lain sebagainya. Kecuali jika ada maksud lain, misalnya menambah stress untuk kepentingan standarisasi dan research.
Kebanyakan orang mengira bahwa Psikotest itu serba mampu mengungkap semua segi kepribadian, dengan lain perkataan tanpa keterbatasan. Sesungguhnya untuk dapat dikatakan bahwa test itu baik, haruslah syarat-syarat berikut ini terpenuhi: yaitu harus reliable, valid dan mempunyai norma atau standar. Apabila semua itu telah dipenuhi, maka sebagai alat ukur Psikotest dapat dianggap objektif. Sekalipun demikian tidak berarti bahwa Psikotest itu sudah ‘sempurna, tanpa kekurangan’ (infallible). Hasil Psikotest dapat menggambarkan tingkah laku seseorang dengan tidak tepat, karena beberapa faktor, yaitu kondisi orang yang diperiksa (misalnya sedang kurang sehat badan, tidak berminat, hendak memperdaya, tidak siap, takut-takut, dan sebagainya). Kondisi orang yang memeriksa (khilaf menskor, tergesa-gesa menyimpulkan, dan sebagainya), kondisi lingkungan fisik yang tidak memenuhi syarat (misalnya kurang penerangan, bising, hawa udara yang tidak segar dan terlalu panas atau dingin, dan sebagainya). Kondisi yang ideal memang sejauh mungkin diciptakan agar dapat dikatakan standar, sehingga  hasil Psikotest dapat lebih dipertanggungjawabkan. Kiranya dengan demikian dapat dijelaskan, bahwa melakukan pemeriksaan psikologi itu tidak sembarangan dan sebaiknya pemakainya/pelakunya                    mempunyai latar belakang pendidikan psikologi yang formal dan dapat dipertanggungjawabkan.
Membuat Psikotest adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah. Prosedur kerjanya cukup panjang dan memerlukan kecakapan tertentu yang dilandasi oleh pengetahuan statistik dan teori psikologi yang mendalam. Prinsip-prinsip dan prosedur konstruksi Psikotest diajarkan di fakultas psikologi, disertai latihan-latihan yang diperlukan. Test yang telah diciptakan selama ini mungkin sampai kepada jumlah ribuan, namun test yang baik dan sering digunakan/dianjurkan tidak banyak jumlahnya. Di Indonesia tentu pula telah beredar Psikotest yang berasal dari luar negeri. Test tersebut belum tentu seluruhnya telah distandarisasikan, bahkan divalidasikan sesuai prosedur konstruksi test yang lazim. Oleh karena itu para pengguna jasa psikologi perlu waspada terhadap penggunaan test yang belum memenuhi syarat-syarat reliability, validity dan standar atau norma yang diperlukan.
Validity adalah hal yang terpenting untuk diperhatikan dalam konstruksi dan penggunaan semua tipe test. Validity selalu dihubungkan dengan pertanyaan: “Test ini mengukur apa?” Selanjutnya perlu dijawab pula pertanyaan: “Apa arti suatu skor?” dan “Skor ini bercerita tentang apa?” atau “Dengan apa skor pada test ini dapat dihubungkan?” Dalam tulisan ini tidak akan diterangkan sampai terperinci tentang validity suatu test, namun masih perlu diketahui bahwa ada tiga macam validity, yaitu content, criterion dan construct validity. Content validity hendaknya jangan dikacaukan dengan face validity, suatu istilah yang digunakan untuk menunjuk kepada kesan seseorang bahwa test itu ‘relevan’. Ada dua jenis criterion validity, yaitu concurrent validity dan predictive validity. Untuk construct validity perlu dibedakan pula dalam convergent validity dan discriminant validity.
Apabila validity menerangkan hubungan antara hasil-hasil test dan kriteria-kriteria di luar test itu sendiri, maka reliability  lebih menerangkan hubungan-hubungan di dalam test itu sendiri. Jadi prosedur penilaian yang disebut reliability itu menjelaskan kecermatan dan keajegan (konsistensi) hasil yang diukur oleh suatu test. Skor sebagai hasil suatu test hendaknya bebas dari pengaruh-pengaruh penentu lain secara kebetulan, sehingga skor itu dapat dipercaya. Istilah lain untuk reliability seperti yang digunakan oleh Cronbach (1970), ialah generalizability.
Standar atau norma diperlukan agar orang dapat mengerti arti suatu skor yang diperoleh seseorang pada test tertentu. Dengan norma itu orang dapat membandingkan kedudukan skor itu dalam populasi di mana test itu distandarisasikan. Dalam proses interpretasi, skor mentah perlu ditransformasikan kedalam bermacam-macam jenis. Sekedar untuk pengetahuan saja dikemukakan di sini bahwa ada dua jenis transformasi, yaitu percentile score dan standard score. Selain yang penting itu masih ada norma lain, seperti stanine, Wechsler IQ’s, sedangkan TNI AD menggunakan variasi dari standard score (z-Score) yang dinamakan ‘kelas angka’ (punten klasse). Dengan cara pembuatan standar atau norma berdasarkan kelompok tertentu, misalnya kelompok Perwira, Bintara dan Tamtama, atau kelompok pendidikan, misalnya Akmil, Selapa, Seskoad, maka setiap skor yang diperoleh seorang testee dapat diartikan dalam konteks kelompok tertentu. Di USA ada jenis-jenis standard scores seperti CEEB (College Entrance Examination Board) Scores dan AGCT (Army General Classification Test) Scores.
Pembuatan norma untuk objective test (test intelegensi) relatif lebih mudah daripada untuk projective test (test kepribadian), jenis test kepribadian yang menggunakan kuesioner yang sering dinamakan ‘inventories’ masih termasuk objective test. Namun projective test seperti Rorschach, Thematic Apperception Test, Wartegg Zeichen Test, Baum Test, masih lebih sulit prosedur pembuatan normanya karena faktor-faktor lingkungan terutama budaya dan nilai-nilai sosial, serta banyak makna simbolik yang perlu diperhitungkan. Pengalaman klinik para ahli di bidang psikologi ikut menentukan dalam pembentukan kemampuan mengintrepretasikan symptom-symptom yang muncul pada hasil pemeriksaan psikologi yang bersangkutan.
Untuk mendapatkan validity coefficient, reliability coefficient dan pembuatan standar atau norma diperlukan perhitungan statistic. Untuk itu pula diperlukan penguasaan metoda psikometrik, terutama dalam konstruksi test objektif. Menggunakan test yang telah ‘jadi’ memang tampak mudah, namun seorang ahli di bidang psikologi pasti dan harus mengetahui serta menguasai prosedur konstruksi test objektif agar benar-benar bertanggung jawab dalam melakukan profesinya.
Mengingat bahwa hingga saat ini masih banyak orang yang menanyakan cara-cara menghadapi Psikotest, maka berikut ini kami sampaikan beberapa tips yang dapat dilakukan berkaitan dengan Psikotest.
1.             Harus cukup istirahat/tidur sebelum pelaksanaan Psikotest. Hal ini penting dilakukan untuk menghimpun energi yang dapat meningkatkan konsentrasi.
2.             Percaya pada kemampuan diri  sendiri. Tidak perlu kasak-kusuk yang justru dapat mengakibatkan timbulnya kebingungan/ketegangan, apalagi bila informasi yang diperoleh ‘menyesatkan’.
3.             Perhatikan instruksi yang diberikan oleh testor (pengetest). Bila belum jelas, bertanyalah pada testor sebelum waktu untuk mengerjakan test dihitung.
4.             Kerjakan materi test seoptimal mungkin, sesuai dengan petunjuk/ instruksi testor. Penyimpangan terhadap instruksi dapat mengakibatkan kesalahan dalam proses pengerjaan.
5.             Pusatkan seluruh perhatian dan pikiran pada materi yang dikerjakan. Dengan demikian maka energi yang dimiliki dapat dimanfaatkan dengan optimal.
6.             Periksa kembali apa yang sudah dikerjakan, apabila waktunya masih ada (belum ada aba-aba “selesai” / “berhenti”). Hal ini memungkinkan kita untuk mengoreksi/memeriksa kembali jawaban yang diberikan dengan lebih teliti.
Read more >>

Rabu, 19 Desember 2012

Mengembangkan Karakter melalui Olah Raga….. Bisa kah???



Meskipun saya sangat meyakini perlunya keseimbangan yang harmoni antara  aspek kepribadian, akademik, dan jasmani untuk mencapai  suatu kondisi ideal kepribadian (integritas), namun pada kesempatan ini pebahasan akan lebih dititik beratkan pada bidang jasmani melalui pendekatan psikologi olah raga. 

Penerapan psikologi dalam bidang olahraga ini ditujukan untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan seoptimal mungkin dan mengurangi adanya kendala yang ada dalam kepribadiannya.

Sebelum membahas lebih tentang sejaumana hubungan olah raga dengan pengembangan karakter, ada baiknya sekilas kita mempelajari sejarah tentang duania olah raga, khususnya sejarah Olimpiade Kuno (1300  – 776 Sebelum Masehi).
Pada mulanya olimpiade adalah bagian dari ritual keagamaan bangsa Yunani (Greece) dan koloninya untuk menyembah dan memuja dewa Zeus.  Setelah dilakukan ritual keagamaan di sebuah kuil di bukit  Kronus dikota Olimpia, selanjutnya dilakukan sebuah festival/lomba  olahraga yang diikuti oleh ratusan atlit bangsa Yunani yang dimaksudkan sebagai penghargaan dan rasa syukur bagi dewa Zeus.

OLahraga yang diperlombakan pada awalnya adalah berkuda, tinju dan pentathlon yang terdiri dari lompat jauh,lempar lembing,lempar cakram,  lari dan gulat. Pada saat itu para atlit melakukan lomba dengan bertelanjang bulat.  Lomba diadakan setiap 4 tahun sekali di stadion berkapasitas 40.000 dan berlangsung selama 5 hari.

Peserta dan penonton yang diijinkan berpartisipasi hanyalah kaum pria. Selama masa perlombaan berlangsung semua aktifitas peperangan dan sikap sikap permusuhan dihentikan dan dilarang.  Pemenang lomba diberikan mahkota yang terbuat dari daun Zaitun dan diberikan gelar pahlawan. Begitu dihormatinya para pemenang, sehingga sebuah peperangan akan berhenti bila “sang pemenang” melintas medan pertempuran.

Pada 393 Setelah Masehi Lomba di Olimpia dihentikan oleh kerajaan kristen yang berkuasa pada saat itu yaitu Theodore I.  Pada 426 Setelah Masehi Raja Theodore II menghancurkan kota Olimpia.  Selain itu kota Olimpia hancur & hilang akibat bencana alam.

Sejarah  Olimpiade Modern , Olympimsm & Gerakan Olympiade. 
Sejarah Olimpiade Abad 19 kembali pada tahun 1852, ketika arkeolog Jerman Ernst Curtius yang bekerja di reruntuhan Olympia menemukan kembali peninggalan kebudayaan kota Olimpia. Idenya untuk menghidupkan kembali olimpiade diterima oleh  Baron Pierre De Coubertin, seorang  bangsawan prancis. Dengan motto "The important thing is not to win, but to participate" pada tanggal 23 Juni 1884, ia memberikan gagasan untuk membangkitkan kembali Semangat Lomba Olimpia (Olympism) yang dipadukan dengan  penyelenggaraan pertandingan olah raga tingkat internasional (olympic games)  yang kemudian  dikenal dengan gerakan olimpiade (olympic movement).  Ide dasarnya adalah menciptakan kehidupan yang damai di dunia melalui kegiatan olah raga antar bangsa. 

Olimpiade modern yang pertama diadakan di kota Athena pada tahun 1896 mengajak negara-negara di dunia untuk bersama menghidupkan kembali nilai &  kegiatan  Olimpiade sebagai solusi mengatasi krisis sosial, politik akibat dari konflik dan permasalahan di berbagai & antar Negara.  Kegiatan Olimpiade diharapkan dapat memberikan inspirasi dan semangat persaudaraan dalam upaya membangun resolusi perdamaian untuk mengatasi kekacauan yang terjadi di seluruh dunia.  Untuk maksud tersebut dan agar pelaksanaan aktifitas pergerakan olimpiade berjalan secara terpadu dan berkesinambungan  di seluruh dunia  maka ditetapkan piagam olimpiade (Olympic Charter).  Olympic Charter adalah prinsip-prinsip dasar, peraturan-peraturan dan anggaran rumah tangga yang telah tersusun secara sistematik yang dipakai sebagai pedoman oleh IOC.

Pokok Pokok Pikiran Gerakan Olimpiade adalah untuk :
o     Mempromosikan dan menyebar luaskan olahraga  dan nilai filosofisnya (olympism) sebagai dasar pembentukan fisik dan pengembangan moral manusia.
o     Mendidik generasi muda melalui olahraga  dalam semangat saling pengertian dan persaudaraan  yang lebih baik diantara mereka, sehingga   memungkinkan terbentuknya dunia yang lebih damai dan lebih baik.
o     Menyebar luaskan prinsip-prinsip Olimpiade keseluruh dunia, sehingga membentuk semangat internasional.
o     Mempertemukan atlet dunia dalam suatu festival olahraga empat tahunan, yaitu pertandingan olimpiade (Olympic Games).

Olympism Sebagai Pokok Pikiran

o     Olympism adalah dasar fundamental dan filosofi kehidupan yang mencerminkan dan mengkombinasikan keseimbangan antara jasmani (badan yang sehat) dan rohani    (kemauan, moral dan kecerdasan) serta mengharmonikan antara kehidupan keolahragaan, kebudayaan dan pendidikan, sehingga dengan demikian dapat diciptakan keselarasan kehidupan yang didasarkan pada kebahagiaan dan usaha yang mulia, nilai nilai pendidikan yang baik dan penghargaan pada prinsip-prinsip etika.
o     Tujuan Olympism adalah menempatkan olahraga dimana saja sebagai wahana  pembentukan manusia secara utuh yang harmonis dalam  usaha  membangun suatu masyarakat yang damai dengan saling menghormati. Untuk kepentingan ini gerakan olahraga berusaha secara sendiri-sendiri ataupun bekerjasama dengan organisasi yang terkait menciptakan  kegiatan-kegiatan dalam usaha membangun perdamaian yang abadi.

Paradigma Gerakan Olympiade

o    Prestasi olahraga bukan yang utama bagi  atlet dalam suatu kompetisi, melainkan hasil dari proses keseluruhannya,  yaitu terbangunnya kemuliaan diri yang merupakan kombinasi & keseimbangan antara kualitas & keterampilan fisik (skill), sikap/kemauan (attitute), dan kecerdasan pikiran (knowledge) sebagai prinsip dasar hidup.  
o    Nilai-nilai olympiade (olympism) sebagai filosofi,  mengandung arti tidak ada pembedaan dalam hal; ras, suku, agama, ideologi & warna kulit, serta merupakan usaha untuk menciptakan  perdamaian dunia. 

7  (Tujuh)  Komponen Standar Dari Sasaran Pembentukan Moral Dalam Olympism.

1.         Kesempurnaan Dalam Performansi (Excellence in performance)
2.         Berpartisipasi Dengan Kegembiraan & Kesenangan (Joy and pleasure in participation)
3.         Kejujuran dalam berkompetisi (Fairness of play) 
4.         Rasa Hormat Terhadap Sesama (Respect for other nations, cultures, religions, races and individuals)
5.         Pengembangan Kualitas Manusia (Human quality development)
6.         Belajar Secara Bersama & Terpadu (Leadership by sharing, training, working and competing together )
7.         Kedamaian Antara Bangsa (Peaceful co-existence between different nations peace).

Penjabaran Nilai-Nilai Gerakan Olimpiade & Olympism Secara Lebih Luas Dalam kehidupan mencakup :

1.         Visioner (tujuan jangka panjang)
2.          Peacefull (kedamaian)
3.          No Discrimination (tidak diskriminatif)
4.          Mutual Understanding (saling memahami)
5.          Friendship (persahabatan)
6.          Solidarity (solidaritas)
7.          Fair Play (kejujuran,adil,wajar)
8.          Excellence (keunggulan)
9.          Fun (kesenangan)
10.      Respect (menghargai)
11.      Human Development  (pengembangan diri) 
12.      Leadership (Kepemimpinan)
13.      Motivation (semangat,pantang menyerah)
14.      Team Work (kerjasama,sinergi)

Demikian tingginya nilai dalam dunia olah raga senastiasa diikuti pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang tersebut.  Science & Technology in Sport  atau lebih dikenal dengan istilah sport science mempelajari olah raga dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, karena dari kegiatan sederhana saja, seperti menedang bola banyak aspek yang berpengaruh…”there’s a lot of Science involved in the simple act of kicking a ball” dapat kita lihat dalam ilustrasi gambar di samping ini.

Dalam bagan berikut ini tampak jelas kompleksitas dan keterlibatan dalam berbagai disiplin ilmu untuk mencapai suatu prestasi puncak seorang atlet.  Pada kesempatan ini pembahasan akan difokuskan pada psikologi olah raga


Psikologi Olah Raga
Psikologi olahraga pertama kali dikenalkan oleh Norman Triplett pada tahun 1898. Laboratorium Psikologi Olahraga pertama di dunia didirikan tahun 1920 oleh Carl Diem di Deutsce Sporthochschule di Berlin, Jerman.  Tahun 1925 Coleman Griffith dari Universitas Illinois mendirikan laboratorium psikologi olahraga di Kawasan Amerika Utara. Griffith tertarik pada pengaruh faktor-faktor penampilan atletis seperti waktu reaksi, kesadaran mental, ketegangan dan relaksasi otot serta kepribadian. Ia menerbitkan dua buah buku di dunia Psikologi Olahraga, yaitu The Psychology of Coaching (1926)  & The Psychology of Athletes (1928).   Pada tahun yang sama, di Eropa juga berdiri sebuah laboratorium Psikologi Olahraga yang didirikan oleh A.Z Puni di Institute of Physical Culture in Leningrad. Namun Setelah periode tersebut psikologi olahraga mengalami kemandegan dan baru pada tahun 1960-an psikologi olahraga kembali mulai berkembang. Perkembangan ini ditandai dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan membuka konsentrasi pengajaran pada Psikologi Olahraga. Puncaknya adalah pembentukan International Society of Sport Psychology (ISSP) oleh para ilmuan dari penjuru Eropa. Kongres internasional pertama diadakan pada tahun yang sama di Roma, Italia.  Di dunia olah raga terkenal suatu ungkapan sebagai berikut :

At the top level of the sport, where many athletes have equal physical ability, the difference between a great and a good performance or between winning and losing is often related to mental rather than physicsl abilities

Dari ungkapan tersebut jelaslah berapa penting dan signifikannya kondisi psikologi seorang atlet dalam mencapai prestasi optimalnya.Terlebih lagi jika kita dalami 7 (tujuh) Komponen Standar Dari Sasaran Pembentukan Moral Dalam Olympism, dan aplikasinya dalam sendi-sendi kehidupan yang sarat dengan nuansa psikologi.   Pendekatan psikologi dalam olah raga sebagai upaya mencapai prestasi yang maksimal seyogianya dipahami secara utuh dan menyeluruh melalui pemahaman psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, psikologi klinis, psikologi sosial, dan psikologi organisasi. 

Kembali kepada pokok pembahasan kita “bagaimana berolah raga dapat mengembangkan karakter seseorang ?”

Diperlukan upaya pendekatan sesuai dengan fase pertumbuhan manusia agar pelatihan atau olah raga yang dilakukan memiliki dampak pada perkembangan karakter seseorang.  Berikut fase-fase perkermbangan tersebut dan bagaimana pelatihan dapat dilakukan.

Pada Fase Anak-anak (6-12 Th).

            Proses latihan perlu di-skenario-kan sebagai arena bermain (mendapatkan kesenangan & kebebasan bergerak)
            Mengembangkan keterampilan gerak fisik/teknis  (motorik dan kelenturan)
            Dorongan/motivasi diarahkan untuk membentuk kemandirian yang prestatif
            Pengembangan nilai- nilai sosial dan kerjasama
            Penanaman nilai -nilai moral (kejujuran, sportifitas , respek dan saling menghargai)

Pada Fase Remaja (12-16 Th)

            Proses latihan sebagai proses membentuk jati diri
            Mengembangkan keterampilan teknis dan taktis
            Dorongan/motivasi diarahkan untuk membentuk prestasi tertentu
            Pengembangan daya juang dan saing dalam berkompetisi
            Penanaman nilai- nilai profesional seorang atlit (pengetahuan, keterampilan dan sikap)

Pada Fase Dewasa (16-21 Th)

            Proses latihan sebagai proses pemantapan menuju prestasi puncak
            Mengembangkan keterampilan teknis, taktis dan strategis
            Dorongan/motivasi diarahkan untuk mencapai dan mempertahankan target prestasi tertentu
            Pemantapan dan pemeliharaan daya juang dan saing dalam berkompetisi
            Pemantapan dan pemeliharaan sikap profesional seorang atlit berprestasi (intelektual, emosional, spriritual dan daya tahan)
Upaya yang dilakukan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut dengan sasaran kepada keterampilan psikologi (Psychological Skills) yang perlu dimiliki oleh setiap individu agar dapat memperoleh  kerberhasilan dalam kehidupannya.  Terdapat 9 keterampilan psikologi  yang perlu dimiliki oleh setiap atlet bahkan setiap individu sebagai berikut:

1.         Attitude / Sikap ……………Atlet yang Sukses :
·            Menyadari bahwa sikap merupakan pilihan
·            Selalu bersikap positif
·            Menyadari bahwa olah raga adalah suatu cara mengalahkan diri sendiri, dan mampu belajar dari keberhasilan
·            Selalu mengejar prestasi yang lebih tinggi
·            Menghargai lawan tanding, para pelatih, da  para official

Pembentukan sikap  merupakan hal yang pertama dan utama bagi setiap individu. Melalui pembentukan sikap inilah kelak seorang individu akan mengembangkan dirinya.  Dengan mengembangkan niat dan pikiran yang positif seorang atlet akan membentuk sikap sportifitas yang tinggi, senantiasa termotivasi untuk meraih prestasi maksimal yang dapat diraihnya.  Adanya masalah, hambatan dan kendala dalam berlatih maupun saat bertanding akan dihadapi sebagai tantangan yang harus diatasi dan dilalui karena merupakan suatu proses dalam menapak tangga jenjang prestasi yang lebih tinggi.
Keterampilan psikologi yang mendasar berikutnya yang perlu dimiliki oleh atlet adalah motivasi. Hal ini juga tentunya terkait dengan target (goal) dan komitmen untuk meraih sesuatu dalam jangka waktu tertentu.  Dengan motivasi yang sesuai, seorang atlet dapat menampilkan potensinya secara optimal.  Sebaliknya, tanpa motivasi yang memadai mereka hanya akan hanyut dalam rutinitas dan tidak menampilkan suatu peningkatan prestasi yang berarti.

2.         Motivation / Motivasi……Atlet yang Sukses:

         Menyadari bahwa dia akan memperoleh penghargaan dan keuntungan dari keterlibatannya dalam Olahraga
         Mampu bertahan menghadapi kesulitan dan hambatan
         Dengan berpartisipasi dalam Olahraga maka atlet akan merasakan manfaatnya

3.         Goals and Commitment /Sasaran dan Komitmen… Atlet yang sukses :
             Menetapkan tujuan jangka panjang maupun jangka pendek yang realistis, terukur dan memiliki batas waktu.
             Menyadari tingkat prestasi saat ini dan mampu mengembangkan rencana yang rinci dan spesifik untuk mencapai sasaran.
             Memiliki komitmen tinggi untuk mencapai sasaran dan menjalani pelatihan yang diprogramkan

     
Sebagai makhluk sosial setiap atlet  juga perlu memiliki kecakapan sosial.  Meskipun beberapa cabang olah raga sangat bersifat individual, namun  bukan berarti atlet tersebut tidak memerlukan kecapakan sosial.  komunikasi dan relasi dengan lingkungan sosial, termasuk sesama atlet, dengan pelatih, manager, dan yang lainnya sangat diperlukan dalam proses pengembangan diri.

  

4.         People Skill / Kecakapan Sosial….Atlet yang sukses:
             Menyadari bahwa ia adalah bagian dari suatu sistem yang besar, dimana di dalamnya terdapat keluarga, teman, sesama atlit, pelatih, dll.
             Mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya dan kebutuhan kepada orang-orang di sekelilingnya sekaligus mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan pikiran dan perasaan orang lain
             Menangani konflik sesuai dengan situasi yang ada

Keterampilan psikologi berikut merupakan tingkat lanjutan yang diperlukan dan dapat dilatih melalui PST (Psychological Skills Training).

5.         Self Talk / Sugesti Diri.   Mensugesti diri diperlukan untuk menumbuhkembangkan keyakinan pada diri sendiri dalam mengatasi segala permasalahan yang dihadapi.  Melalui suatu kalimat positif yang dilatihkan dan diyakini mampu memberikan sugesti diri tersebut akan membuahkan hasil yang luar biasa.

Atlet yang sukses:
       Tetap percaya diri saat menghadapi situasi yang sulit melalui sugesti diri yang realistis dan positif
       Berbicara pada diri sendiri seolah-olah berbicara pada sahabat  terbaik
       Selama pertandingan menggunakan sugesti diri untuk mengolah perasaan, pikiran dan tingkah laku

6.         Mental Imagery / Imajeri.  Ada pendapat bahwa sesuatu peristiwa tersebut terjadi dua kali, yang pertama ada dalam bayang (imagery) kita, yang berikutnya adalah dalam realitanya.  Latihan imagery diperlukan atlet dapat menampikan performa sesuai yang ada dalam bayangannya.  Semakin kuat dan  nyata imagery  tersebut tercipta semakin dekat realita akan didapatkan.

Atlet yang sukses:
       Membayangkan  penampilan terbaik sebagai persiapan menjelang pertandingan
       Menciptakan dan menggunakan Imajeri yang detil, spesifik, dan realistis
       Menggunakan Imajeri selama pertandingan sekaligus sebagai upaya bangkit kembali dari penampilan yang buruk


7.         Dealing effectively with Anxiety /Mengelola Kecemasan.  Ada kecemasan yang bersifat negatif yang menghasilkan energi negatif pula, sehingga berdampak kontra produktif.  Mengelola kecemasan yang ada pada dirinya menjadi energi positif yang mendorong dirinya untuk menampilkan performa terbaiknya.

Atlet yang sukses:
       Dapat menerima kecemasan sebagai bagian dari olahraga
       Pada tingkat tertentu kecemasan dapat membantu meningkatkan prestasi
       Mengetahui cara mengurangi kecemasan yang berlebihan

8.         Dealing Effectively with Emotions /Mengelola emosi secara efektif.  Tanpa bermaksud mengecilkan aspek pribadi lainnya seperti aspek intelektual, mengelola emosi sangat dipercaya dapat memberikan dampak yang sangat luar biasa dalam mendukung keberhasilan seseorang.

Atlet yang sukses:
       Menyadari sepenuhnya bahwa emosi yang kuat seperti antusiasme, kemarahan, dan kekecewaan merupakan bagian dari olah raga kompetisi
       Mampu menggunakan emosi untuk meningkatkan dan bukan menjadi hambatan dalam pencapaian prestasi

9.         Concentration /Konsentrasi……Atlet yang sukses:
         Mengetahui apa yang harus menjadi pusat perhatian dalam menghadapi kompetisi
         Menguasai cara memelihara konsentrasi dan menghalau gangguan, baik yang dari dalam dirinya maupun dari lingkungan
         Mampu mengembalikan konsentrasi yang hilang selama bertanding
         Mampu memusatkan perhatian pada situasi yang sedang dihadapi (here and now)


Untuk  pengembangan karakter sehingga mampu mencapai kondisi psikologi yang prima, maka perlu dilakukan tahapan aplikasi intervensi psikologi secara paripurna.


Kesimpulan

Olah raga bukan sekedar mengolah raga atau tubuh, melainkan merupakan suatu kegiatan yang sangat kompleks yang dipelajari berbagai disiplin ilmu. Oleh karena itu, melalui olah raga yang teratur dan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah seyogianya dapat menjadi media pengembangan karakter.....sedangkan, kondisi karakter yang prima merupakan keseimbangan yang harmoni dari kondisi dari mind, body and spirit.

Salam Olah Raga……
Referensi
o     Dispsiad, Bahan Pelatihan & Pengajaran Psikologi Olah Raga
o     Gunarsa,S.D., Psikologi Olahraga Prestasi PT BPK Gunung Mulya ,Jakarta, 2007
o     Lilik Sudarwati Adisasmito, Mental Juara “Modal Atlet Berprestasi”, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007
o     Rita Sri Wahyusi  Subowo, Pidato Pengukuhan Doktor HC di Universitas Negeri Semarang
o     Thelma S.Horn., Advance In Sport Psychology 3rd Edition, champaign 2008. Human Kinetics
o     Monty P.Satiadarma, Dasar-Dasar Psikologi Olah Raga, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 2000


Catatan kecil tentang 5 prinsip pembelajaran :

1.         Mulai dari tujuan mulia (start from noble goals)
2.         Nikmati perjalanan untuk mendapatkan tujuan (joy the way to get the aim)
3.         Transaksi Pertama (First Transaction)
4.         Program berkelanjutan (Continuity Program)
5.         Harmoni dalam perbedaan (Rainbow harmony in diversity)

Read more >>