Senin, 21 April 2014

POKOK POKOK PIKIRAN TENTANG ALTERNATIF SOLUSI MENANGANI KEKERASAN MASSA DITINJAU DARI PERSPEKTIF PSIKOLOGI MASSA GUNA MENUNJANG KEAMANAN DALAM NEGERI


Latar Belakang
Keamanan dalam negeri dalam pengertian universal teoritis adalah  kondisi kehidupan nasional  secara menyeluruh, mencakup aspek politik, ekonomi, sosial budaya dan kewilayahan berada dalam keadaan stabil dinamis, damai, tertib dan tenteram. Namun realitas menunjukan kondisi keamanan dalam negeri tak mungkin nihil dari adanya berbagai gangguan. Sesuai dengan Inpres No 2 tahun 2013 tentang Penanganan Gangguan Kamdagri, gangguan itu mencakup berbagai  permasalahan yang berkaitan dengan dinamika politik, ekonomi, dan sosial budaya; dapat berbentuk (1) perseteruan antarumat beragama dan/atau interumat beragama, antar suku, dan antaretnis; (2) sengketa batas wilayah desa, kabupaten/kota, dan/atau provinsi;  (3) sengketa sumber daya alam antar masyarakat dan/atau antar masyarakat dengan pelaku usaha; atau distribusi sumber daya
Berdasarkan catatan Kemdagri, jumlah peristiwa konflik sosial yang menonjol pada tahun 2010 tercatat 93 peristiwa; tahun 2011, 77 peristiwa; tahun 2012, 128 peristiwa; dan s.d akhir Oktober 2013, 39 peristiwa. Peristiwa tersebut  merupakan implikasi dari kebebasan masyarakat untuk menyatakan pendapat dimuka umum yang dijamin UU namun pada kenyataannya  ekspresi yang diwujudkan melalui demonstrasi massa mengarah anarkhis dan kerap menjadi tindak kekerasan yang melanggar hukum
Begitu banyaknya aksi-demontrasi yang dilakukan oleh kelompok massa dengan berbagai kepentingannya, dan mengarah pada tindakan destruktif menimbulkan gangguan pada stabilitas kehidupan masyarakat. Atas dasar itulah Pemerintah dan DPR RI telah membentuk landasan hukum bagi penanganan konflik sosial yaitu  UU No. 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial ditindaklanjuti dengan terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) No. 2 Tahun 2013 tentang Penanganan Gangguan Keamanan Dalam Negeri pada bulan Januari 2013, dan diimplementasikan dengan membentuk Tim Terpadu dan penyusunan rencana aksi  mulai tingkat pusat sampai dengan timgkat kabupaten/kota
Penanganan gangguan kamdagri belum mampu mencegah terjadinya kekerasan sosial, peran Polri dan keterpaduan upaya sinergisitas internal Tim terpadu seolah terlambat, karena penetapan status keadaan konflik tak kunjung diberlakukan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota yang wilayah kewenangannya dilanda konflik.
Perilaku kolektif massa
Perilaku kolektif ini meliputi perilaku kerumunan/crowd dan perilaku massa/aksi massa  yang dalam pokok bahasan termasuk perilaku dalam keadaan bencana, kepanikan, desas-desus, histeria massa, propaganda, pendapat umum dan revolusi.  Perilaku kerumunan (crowd) bersifat sementara dan memberikan reaksi secara bersamaan terhadap suatu rangsang/stimulus tertentu.   Interaksi sosial antar anggota terjadi secara langsung dalam waktu yang singkat dan bersifat episodik.  Umumnya mereka tidak saling kenal, bentuk perilaku yang ditampilkanpun tidak berstruktur, tidak ada aturan, tradisi atau pola yang dapat dijadikan pedoman, dan tidak ada pengendalian formal atau pemimpin yang ditunjuk.  Kelompok ini bisa saja menjadi liar (reaktif) atau diprovokasi agar terarah pada suatu sasaran tertentu sampai batas tertentu yang dapat dipahami/dianalisa, sehingga dapat diprediksi atau dikendalikan.  
Berbeda dengan kerumunan, aksi massa merupakan sejumlah orang yang relatif besar dan tersebar yang memberikan reaksi terhadap satu atau lebih rangsangan secara perorangan tanpa saling kenal satu dengan yang lainnya. Pada awalnya dari kerumunan yang belum memiliki pembagian tugas secara teratur dan mengikat, ada penggeraknya dan bila penggerak hilang maka akan berubah kembali menjadi kerumunan, berjangka waktu lebih lama dan tercipta dari jumlah keseluruhan tidak yang dilakukan oleh banyak orang (melakukan tindakan yang sama, misalnya  penjarahan, pembakaran, perusakan atau tindakan anarkis lainnya).  Penyebaran aksi massa merupakan penyebaran suasana hati, perasaan atau suatu sikap yang tidak rasional, tanpa disadari dan berlangsung secara relatif cepat didukung oleh beberapa faktor antara lain : Anonimitas, semakin tinggi kadarnya, semakin besar kemungkinannya melakukan tindakan ekstrim;  impersonalitas; sugestibilitas; tekanan jiwa / stress; interaksional; dan reaksi sosial. Massa merupakan kolektivitas yang merasa berkuasa karena berkerumun dalam suatu kelompok yang besar.  Dalam himpunan massa, orang per orang berlindung dibalik kerumunan dan ketika beraksi massa gampang tergoda merusak fasilitas publik, merampas hak orang lain, mempertontonkan kekerasan sekaligus kebodohan serta kebrutalan.
Perkembangan terjadinya massa dapat digambarkan sebagai berikut: Crowds  adalah sekumpulan orang (kerumunan) bersifat sementara yang memberikan reaksi secara bersama-sama terhadap suatu stimulus tertentu. Dalam perkembangan dinamika selanjutnya crowds dapat berkembang menjadi gerakan massa aktif (mobs) yang bersifat agresif atau pasif (audiences) yang terjadi secara disengaja (konvesional) atau kebetulan (kasual). Mobs dapat berupa tindakan-tindakan aktif dapat bersifat agresif yang mengarah pada tindakan kerusuhan (riot), perusakan atau penghancuran, teror, pembunuhan, pembakaran, penganiayaan, penjarahan/perampasan dan tindakan anarkis lainnya. Mobs yang bersifat ekspresif biasanya dinyatakan dalam kegiatan bersama sebagai pelepasan emosi seperti arak-arakan, pesta adat dan unjuk rasa secara damai. Diantara kedua hal tersebut terdapat reaksi-reaksi panik akibat melarikan diri dari situasi yang menakutkan, mengejutkan, dan mengancam, serta bisa pula disertai tindakan brutal / anarkis.  Sedangkan audiences dapat terjadi secara kebetulan atau direncanakan yang sifatnya mencari hiburan / rekreasi, mencari informasi, dalam rapat umum, dan penerangan. 
Pembagian massa dapat dilihat dari bentuk, sifat maupun gerakannya. Dilihat dari bentuknya terdiri dari Massa abstrak yang merupakan sekumpulan manusia yang belum terikat kesatuan norma emosi dan motif. Embrio masa konkrit bisa bubar tiap saat. Massa konkrit yang merupakan sekumpulan manusa yang sudah memiliki ikatan bathin (emosi , motif, solidaritas, dll). Terdapat persamaan norma/aturan, memiliki struktur yang jelas dan memiliki potensi dinamis.  Dilihat dari sifatnya terdiri dari Massa ekspresif merupakan kelompok yang bersama-sama melepaskan tekanan jiwa dalam kegiatan  tertentu.  Misalnya: Mimbar bebas, arak-arakan  (festival budaya/keagamaan), unjuk rasa tanpa kekerasan, namun bila kelompok semakin membesar dan dimanfaatkan maka dapat berubah menjadi  massa aktif.  Massa aktif merupakan suatu kelompok yang cenderung melaksanakan aksi/tindakan secara serentak.  Secara bersama melepaskan tekanan psikologis melalui tindakan tertentu.  Umumnya kelompok ini berawal dari kelompok tidak puas, muncul ide baru yang bertentangan dengan ide yang ada diulang (clise) dan selanjutnya menunggu kesempat untuk menjadi aksi massa.  Dilihat dari gerakannya terdiri dari : massa Progresif  (Target perubahan/pembaharuan, biasanya bersifat radikal), Status quo (Berlawanan dengan kelompok progresif. Mempertahankan sikap / sistem lama dan selalu konflik dengan gerakan progresif  sampai salah satu menjadi kalah/hancur), dan massa Reaksioner yang merupakan kelompok untung-untungan atau mencari kesempatan,  fleksibel/oportunis yang penting tujuan kelompok berhasil.  Menyerang sesuau yang telah lalu, yang sedang terjadi saat ini, bahkan yang akan datang.
Setiap  gerakan massa  merupakan kompleksitas yang disebabkan oleh banyak variabel, sehingga sulit untuk menduga atau memperhitungkan secara hipotetis frekuensi dan intensitas dari gerakan massa yang terjadi.  Diawali kondisi psikologi seperti adanya frustrasi, konflik menyebabkan stress yang merupakan kondisi laten.  Pada kondisi ini, kerumunan dapat dipicu melalui suatu peristiwa di lingkungan yang menyebabkan terjadinya aksi massa.  Maraknya aksi massa merepresentasikan kondisi emosianal laten yang ada pada masyarakat dan menggejala dalam rasa tidak puas, marah, takut, kebencian serta perasaan negatif lainnya.  Konflik yang meledak menjadi aksi  massa seringkali tidak ada kaitan dengan faktor pemicu.  Setelah massa bergerak di lapangan tujuan  seringkali menjadi tidak penting. Hal yang lebih penting adalah pada pelepasan tekanan kejiwaan melalui tindakan-tindakan yang sudah tidak terkendali / brutal, sehingga dapat dimanfaatkan oleh kelompok yang memiliki tujuan lain.    Beberapa masalah sosial (sumber frutrasi), yaitu permasalahan sosial yang dipandang sebagai Tragedi, seperti penyakit sosial, kenakalan remaja; Ketidak adilan, seperti kesenjangan sosek, hak sosial, dan kepastian hukum/perlindungan hukum; Ancaman, seperti narkoba, perusakan lingkungan, kepadatan, peduduk,  sara,  inflasi, dan urbanisasi; Tindak kejahatan, seperti pembunuhan, perkosaan, main hakim sendiri, dan pemerasan/malak; Campur tangan, seperti kebebasan berbicara, berkumpul, menulis, pers, dan melakukan aktivitas tertentu; Kurang peradaban, seperti birokrasi yang berbelit-belit, upah di bawah UMR, KKN, kualitas media massa & pendidikan yang rendah.
Terjadinya konflik sosial terjadi karena adanya objek / isue yang dipertentangkan jelas solusi menang / kalah, kompromi, dsb.  Hal yang  yang dipertentangkan tersebut seringkali tidak memiliki latar belakang yang jelas. Objek yang dipertentangkan tidak mencerminkan masalah pokok/utama. Penyebabnya bersifat “intrinsik”, sepert harga diri, kecewa, sakit hati, dendam, rasa tidak aman / terancam dsb. Konflik yang terjadi dibelakang aksi massa cenderung bersifat autistik, yaitu tidak memiliki permasalahan yang jelas, melainkan tersirat ketika sedang menjalankan aksinya.  Konflik yang di masyarakat secara vertikal dampak dari sistem dan kebijakan contoh  pekerja  vs  pengusaha  terkait dengan permasalahan UMR, limbah, dsb.  Sedangkan konflik horizontal  biasanya bersifat SARA.  Konflik sosial juga dapat terjadi karena terjadi kekosongan kekuasaan yang disebabkan antara lain oleh kurang atau tidak  berwibawa Pemerintah atau aparat penegak hukum tidak berfungsi sesuai dengan perannya masing-masing.
Persoalan dan Pemecahannya
Guna menunjang penanganan kamdagri secara antisipatif dan soft approach, maka pilihan pendekatan psikologi massa cukup relevan untuk ditempuh dalam menangani konflik sosial   Untuk itulah beberapa persoalan yang perlu dipecahkan antara lain : (1) Perilaku individual, perilaku massa dan perilaku sosial; (2) Pembentukan kelompok massa; (3) Karakter perilaku massa (mengapa massa aktif melakukan berbagai tindakan kekerasan  dalam demonstrasi); (4) Peran para aktor (K/L/Pemda dan para tokoh, cara mengemukakan pendapat sesuai dengan aturan yang berlaku, tata cara demonstrasi yang sesuai dengan aturan yang berlaku, sehingga Demonstrasi tidak mengarah pada tindak. Pilihan solusi antisipatif berbasis soft power atau pendekatan hard power yang hanya relevan jika semua pedekatan soft power mengalami kegagalan,
Untuk dapat menggunakan pendekatan soft power perlu untuk memamhi pembentukan kelompok massa, yaitu melalui suatu proses psikologis, seperti : Imitasi merupakan prilaku meniru yang terjadi secara lahiriah tanpa adanya suatu kritik tertentu terhadap hal-hal yang ditirunya, contohnya masyarakat mengikuti menggunakan baju kotak-kotak berwarna untuk megidentikkan dirinya dengan Jokowi yang pro perubahan bagi Jakarta; Empati merupakan suatu perasaan yang terjadi karena menyelami suatu situasi atau keadaan secara mendalam, sehingga dapat menghayati seperti mengalaminya sendiri, contohnya amarah masyarakat terhadap pelaku sopir penabrak orang-orang di trotoir tugu tani yang berada dalam pengaruh narkoba sebagai wujud empati terhadap para korban;  Simpati merupakan bentuk dari perasaan, merasakan yang disertai oleh pengertian dan pemahaman, sehingga biasanya diikuti oleh prilaku tertentu yang menunjukan rasa simpatinya tersebut, contohnya tindakan menghimpun koin bagi yang seseorang yang sedang diperkarakan oleh rumah sakit karena mengeluh tentang pelayanan rumah sakit tersebut kepada temannya via email; juga Sugesti merupakan suatu kondisi menerima suatu pandangan atau sikap tertentu tanpa adanya suatu kritik, contohnya perilaku memborong dan menimbun BBM karena melihat orang-orang lain melakukan hal yang sama sebagai akibat isu kenaikan harga BBM.  Pemahaman mendalam terhadap proses ini diperlukan untuk mampu menangani perilaku massa yang dapat mengarah kepada perilaku tindak kekerasan.
Psikologi massa merupakan ilmu yang  mempelajari dinamika perilaku massa, dalam hal ini massa diartikan sebagai sekumpulan atau kerumunan manusia yang belum memiliki suatu ikatan apapun. Secara internal, terdapat kekuatan individu untuk bergabung dengan suatu kelompok yang bersifat instinktif, reflektif, asosiatif atau sugestif yang berpengaruh pada struktur dan dinamika massa.  Struktur massa merupakan kondisi fisik dan mental pelaku, serta homogenitas antara lain meliputi usia, jenis kelamin, status sosial, dan suku.  Sedangkan dinamika massa mencakup motivasi, intensitas dan kualitas dari gerakannya. Disisi lain, secara eksternal, dukungan masyarakat, ketepatan waktu (momentum), stimulus/rangsangan, seperti jumlah kelompok, juga turut akan berpengaruh pada aktivitas (bervariasi dari yang tanpa kekerasan sampai dengan kekerasan) dan sasaran, seperti politik, sosial dan ekonomi.  Kedua faktor tersebut (eksternal maupun internal) saling berinteraksi dalam proses terbentuknya massa, baik yang bersifat spontan  maupun terorganisir. 
Massa biasanya terjadi spontan terjadi begitu saja, tidak berstruktur, terorganisir dan terkoordinasi, terdiri dari sejumlah besar orang yang bertindak secara serentak dan tidak terkait dalam kelompok tertentu. Mereka melakukan suatu hal atau tindakan yang sama yang merupakan tindakan yang lebih bersifat individual dan tidak ada kontak langsung yang berkesinambungan.  Massa seperti ini dapat terjadi dengan seketika dan  bubar dengan seketika, umumnya dipicu oleh suatu kejadian yang ada di lingkungannya yang memancing reaksi emosi yang sangat kuat.  Sedangkan massa terorganisir memiliki ciri-ciri seperti homogenitas, memiliki tujuan / sasaran lebih jelas, tindakan lebih terarah, memiliki jiwa korsa yang kuat, keyakinan lebih tinggi, motivasi lebih konstan dan prinsipil, kontinuitas pada aksi-aksinya, disertai disiplin lebih kuat dan lebih militan.  Upaya untuk  mempertinggi jiwa kelompok melalui kontinuitas dari gerakannya, kesamaan ide (dimana kepentingan yang bersifat pribadi diredusir), rangsangan psikologis, seperti janji- janji atas dasar kebutuhan nyata / objektif, diberikan slogan–simbol guna merangsang sentimen kelompok, suku, agama dsb, serta terdapat diferensiasi spesialisasi dan fungsi dari anggotanya.
Pembentukan massa mencakup 3 tahapan, yaitu tahap warming up, agresif dan vakum.  Pada tahap warming up dilakukan upanya mengumpulkan individu/simpatisan dengan memfokuskan emosi melalui yell-yell, slogan dan atribut lainnya yang dapat membakar emosi massa.  Pada tahap agresif, kondisi emosi menigkat yang menimbulkan ketegangan, sehingga membutuhkan penyaluran untuk melampiaskan rasa frustrasi, agresivitas dan sifat destruktif.  Selanjutnya akan memasuki tahap vakum, yaitu telah terlampiaskannya emosi, terjadi kelelahan, kesadaran individu muncul,   kehampaan, vakum, depresif dan merupakan fase kritis
Karakter atau sifat-sifat massa dapat dipahami dari sejumlah fenomena berikut ini: (1) Kekuatan anonim merupakan kekuatan bukan penjumlahan tapi kompleksitas kekuatan fisik & psikis yang memiliki dinamika tersendiri dan sulit untuk dikendalikan, ciri-cirinya: individual menghilang, tanggung jawab moral individual bergeser pada kelompok; (2) Kolektivitas homogen, biasanya tanpa direncanakan lebih dulu, didasari kepentingan emosional yang mendasari unsur simpati, sugesti, dan jiwa kolektif; (3) Irasional, bukan inteligensi objektif yang rasional tetapi inteligensi kolektif yang lebih bersifat asosiatif dan instinktif, kurang rasional dan lebih mudah terbawa arus sentiment; (4) Pengendalian diri berkurang, dimana unsur rasio berkurang, kesadaran menurun ingin segera bertindak dan sulit dikendalikan, serta berbuat sekehendaknya; (5) Tindakan primitif, artinya kemunduran dalam bertindak (regresi ketingkat primitif) yang tampil dalam tindakan yang bersifat agresif dan destruktif; (6) Sensitif dan eksplosif, tampil dalam perilaku sangat emosional serta labil, rasa takut hilang, mudah tersinggung, mudah  dipengaruhi tetapi juga sulit dikendalikan, impulsif,  “pemuasan diri jadi faktor utama”, mudah meledak (eksplosif) dan menyerang (ofensif); (7) Menular, merupakan dinamika sosial, mudah meniru dan ditiru serta dimungkinkan pada waktu dan tempat yang berbeda; (8) Sugestibilitas atau mudah dipengaruhi, sehingga menyebabkan mudah ditunggangi oleh kelompok lain yang lebih memperkeruh suasana.
Pelaku massa terdiri dari pelaku aktif yang merupakan pelaku utama, pelaku ikut-ikutan sebagai simpati dan ikut bergerak di lapangan, serta pelaku pasif sebagai simpatisan tapi tidak ikut bergerak.  Di luar itu terdapat kelompok netral yang tidak peduli dan hanya sebagai penonton.  Sedangkan pimpinan massa dapat dilihat dari sifatnya bisa berupa  ide / konsep (massa tak terorganisir) atau manusia (gerakan, memotivasi dan pengendali massa).  Dapat pula diilihat dari fungsinya, yaitu pimpinan yang jadi otak perencanaan, pimpinan yang dapat menggerakan emosi (fase warming up), dan pimpinan yang langsung mengendalikan aksi massa (fase agresif). Faktor yang mendukung terjadinya perilaku kolektif gerakan massa adalah : (1) Propaganda. Suatu teknik (cara,upaya) yang sistimatis dan direncanakan secara mendalam untuk pengaruhi  sikap / pendapat pihak lain. Alat utama dalam propaganda adalah bahasa, yaitu mengaburkan pandangan yang ditunjang bukti / fakta, sehingga dapat mempengaruhi emosi dn sekaligus mengarah pada upaya memberikan  sugesti.  Sementara itu, pemikiran sebenarnya yang didasari pernyataan disembunyikan.  Tujuan propaganada adalah mempengaruhi pandangan hidup, keyakinan publik (meyakini  isi  propaganda) dan tidak memberikan  kesempatan pada publik untuk berpikir panjang untuk membuat alternatif /perbandingan  terhadap pesan propaganda; (2) Agitasi.  Pada dasarnya sama dengan propaganda hanya dalam agitasi bentuknya sudah lebih mengarah pada tindakan menghasut / menganjurkan  tanamkan kebencian kobarkan rasa permusuhan. Hal yang seringkali dengan jalan kekerasam yang biasanya dilakukan oleh organisasi politik yang bertujan menyerang kelemahan lawan pilitiknya; (3)   Public opinion.  Pendapat umum yang diperoleh dari pertimbangan pikiran (diskusi/perdebatan, talkshow dll) yang mengarah pada “keputusan” (pemahaman bersama) tentang sesuatu hal.  Oleh karena itu,  mampu menimbulkan konsesi dan kompromi terhadap sikap-sikap yang bertentangan sehigga dapat mengarahkan kelompok pada tindakan serempak untuk mencapai tujuan bersama;  (4)  Desas-desus / (rumor).  Berita/kabar angin  yang tidak menentu dan tidak jelas, serta kebenarannya sulit dibuktikan.  Penyebarannya bisa dilakukan melaui lisan, tulisan, secara disengaja ataupun  tidak disengaja.  Dalam keadaan tertekan (situasi sosial kritis/ labil) menyebabkan banyak orang menjadi takut dan curiga, sehingga rumor menjadi cepat meluas/menyebar.  Dalam kondisi ini terjadi ketegangan  emossional yang menyebabkan kelabilan pada inidividu, sehingga daya kritiknya jadi menurun.  Rumor menjadisuburu karena adanya kebutuhan, harapan, keingintahuan, ketakutan diatasi dengan ditambah cerita hayal, terutama bila sesuai dengan kepercayaan/keyakinan individu setempat.  Melalui rumor kebencian kembang jadi rasa permusuhan dan bila tidak terkendali bisa menjadi tindakan agresif terhadap individu atau kelompok lain.   Pada masyarakat ataupun individu yang memiliki informasi yang lengkap akan sulit terpengaruh; (5)  Prasangka sosial.  Sikap sosial negatif terhadap orang/kelompok lain seringkali diakibatkan  rasa frustrasi, kepribadian yang kurang matang,  sikap otoriter yang memaksakan kehendaknya sendiri, kurangnya rasa toleransi, kurang mengintrospeksi diri, dan agresif.  Prasangka umumnya mengarah kepada hal-hal yang bersifat negatif sebagai  akibat kurangnya informasi, dan sering dihubungkan dengan kelompok minoritas atau kelompok ethnik tertentu.  Heterogenitas etnik menimbulkan issue kearah prasangka kultural, stereotip dan sangat subjektif.  Memiliki corak menghambat, merugikan, menghancurkan individu/kelompok lain melalui tindakan diskriminatif, scape goating, terutama pada kelompok yang tidak berdaya.
Mengapa massa aktif melakukan berbagai tindakan kekerasan  dalam demonstrasi?  Aksi massa merupakan ekspresi  gerakan kelompok  yang  sudah memiliki  tujuan (arah atau sasaran). Aksi massa biasanya digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan kelompok dengan arah agresi dari  “bawah” ke “atas”.  Dalam konteks ini peran  provokator bukan  hanya sebagai   figur dominan, dapat  juga  berupa figur yang dianggap memiliki kekuatan lebih besar baik dari aspek  sosial, ekonomi, politik.   Oleh karena itu, aksi ini dapat digunakan  sebagai pressure (kelompok yang menekan),  show of force, dan public opinion  yang bersifat fisik. Beberapa faktor yang terdapat pada perilaku kolektif : (1) Kondusifitas struktural (structural conduciveness) merupakan struktur masyarakat yang  dapat mendukung/menghalangi kelompok masyarakat tertentu; (2) Ketegangan struktural (structural strain) perasaan-perasaan kehilangan sesuatu (hak, keistimewaan dsb) pada kalangan  atas berupa rasa ketidakadilan, hajat hidup terancam, sedangkan pada kelas sosial bawah dapat menjadi faktor munculnya ketegangan  struktur pada masyarakat.
Terjadinya pemunculan dan penyebaran pandangan disebabkan adanya persepsi yang sama tentang sumber ancaman, jalan keluar dan pencapaian jalan keluar dalam mengatasi suatu permasalahan.  Faktor pencetus/mempercepat (precipitating factors) seperti teriakan, orang yang lari tiba-tiba dsb. dapat mengawali timbulnya kericuhan pada masyarakat/kerumunan yang sudah memiliki tingkat ketegangan yang tinggi.  Terjadinya mobilisasi  tindakan, umumnya disebabkan dengan adanya pimpinan di lapangan yang mulai  memberikan stimulasi dan mengarahkan kerumunan untuk bergerak menuju sasaran.

Pilihan solusi antisipatif berbasis soft power.
Untuk dapat menggunakan solusi berbasis soft power  diperlukan analisa yang mendalam terhadap kegiatan massa, misalnya mempelajari fenomena, melihat sifat kerusakan, cara, kelompok yang bergabung, simpatisan, tempat, rute, dan situasi yang mempercepat.  Selanjutnya dianalisis pula reaksi sosial terhadap perkembangan situasi tersebut, dengan mempelajari opini yang berkembang di masyarakat, berita di mass media, press release, reaksi dari objek/sasaran.  Informasi yang detail, akurat dan komprehensif ini perlu disintesakan, misalnya melalui kulster genotype (politik, agama, seosial ekonomi, budaya), media (sabotase, intimidasi, provokasi, kudeta, dll), pelaku yang terdiri dari pelaku/penggerak, pelaksana inti, pendukung, simpatisan, kelompok anti dan netral.  Hipotesa sebagai estimasi landasan untuk menentukan langkah selanjutnya
Penanggulangan massa dengan bentuk preventif, dilakukan melalui pendekatan persuasif terhadap pihak bertikai, pencerahan kepada masyarakat untuk meningkatkan tanggung jawab sosial, menghilangkan sumber sterss di masyarakat, dan melaksanakan pengawasan intensif seperti mewaspadai penumpukan massa.  Bila dalam intensitas masih rendah bisa gunakan orang orang yang punya otoritas untuk meredam agresifitas massa.   Tindakan represif diperlukan pada saat intensitas meningkat dimana massa mulai bertindak brutal disertai tindakan yang anarkis biasanya dilakukan tindakan yang sifatnya represif  dengan tujuan menghentikan gerakan, memisahkan  massa dengan sasaran (block / lokalisir /pecahkan /kanalisasi), dan memunculkan kembali kesadaran individu.  Di beberapa negara untuk menghadapi massa yang sudah histeris / brutal dan melakukan tindakan - tindakan anarkis, maka  aparat keamanan     memberikan kekuatan yang “setara” berupa “kejutan”  (rasa sakit, takut dsb) untuk  mengembalikan kesadaran individu, misalnya   menggunakan peluru karet, gas air mata, kanon air dsb.  Tindakan ini dilaksanakan dengan sangat selektif karena dianggap oleh sebagian besar masyarakat saat ini sebagai pelanggaran Ham, namun dilain pihak cara penanganan yang tidak tuntas akan memprovokasi massa (semakin militan).
Pendekatan hard power hanya relevan jika semua pedekatan soft power mengalami kegagalan.  Peran para aktor (K/L/Pemda dan para tokoh, dalam mensosialisasikan cara mengemukakan pendapat sesuai dengan aturan yang berlaku, tata cara demonstrasi yang sesuai dengan aturan yang berlaku, sehingga perilaku massa  tidak mengarah pada tindak kekerasan/destruktif.
Penutup.
Solusi menangani kekerasan massa melalui pendekatan psikologi massa dapat digunakan sebagai salah satu pilihan dalam mendukung keamanan dalam negeri.  Dengan data yang lengkap, akurat dan komprehensif dapat digunakan solusi berbasis soft power yang efektif dan menuntaskan permasalah karena menyentuh pada inti permasalahan serta tidak meninggalkan  trauma  di masyarakat.  Sedangkan Pendekatan hard power merupakan jalan terakhir jika semua pedekatan soft power gagal, karena melalui pendekatan ini akan meninggalkan banyak dampak negatif di masyarakat.
Demikian pokok pokok pikiran tentang alternatif solusi menangani kekerasan massa ditinjau dari perspektif psikologi massa guna menunjang keamanan dalam negeri, semoga dapat menjadi kontribusi bagi pimpinan dan pihak-pihak yang memiliki akses dalam pengambilan keputusan untuk menangani kekerasan massa.




Read more >>

Selasa, 25 Februari 2014

Perilaku Kekerasan di Kalangan Anak & Remaja



Solusi terhadap perilaku kekerasan di kalangan anak dan remaja dalam rangka mewujudkan Ketahanan Nasional yang kokoh



Abstrak

Latar Belakang
Saat ini terjadi peningkatan jumlah perilaku kekerasan yang mengarah kepada tindak kriminalitas. Fenomena yang sering terjadi adalah pemukulan terhadap junior oleh seniornya di lembaga pendidikan, tawuran antara pelajar/mahasiwapertikaian antarkelompok, perusakan terhadap fasilitas umum akibat frustasi, pornografi. Kasus ini banyak terjadi pada remaja. Hal ini menunjukkan telah terjadi pergeseran nilai-nilai di masyarakat. Akumulasi dari perilaku kekerasan seperti di atas berdampak pada ketahanan nasional.
Ketahanan Nasional merupakan muara dari ketahanan individu, ketahanan keluarga, dan ketahanan lingkungan sosial mayarakat.  Ketahanan dimaknai sebagai suatu bentuk ketangguhan sekaligus fleksibilitas untuk tetap mampu survive dan berkembang meskipun harus menghadapi berbagai berbagai permasalahan.  Ketahanan tidak dapat terjadi dengan sendirinya, namun merupakan suatu proses panjang dan latihan yang bertahap, serta berkesinambungan.  
Pengaruh dari lingkungan strategis, secara global, regional dan nasionak turut memberikan pengaruh yang signifikan bagi upaya memperkokoh ketahanan nasional tidak selalu bersifat positif, namun banyak pula yang bersifat negatif.  Meskipun demikian, dengan kemauan dan upaya bersama untuk dapat mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan dengan cara mengembangkan (To promote), melindungi (To protect), dan mengapresiasi (To respect) harkat martabat sesama manusia  dengan leading sector Pemerintah  agar setiap anak dan remaja memiliki ketahan diri, sehingga diyakini akan mampu memberikan solusi terbaik dalam menangani perilaku kekerasan yang kerapkali terjadi saat ini.




Read more >>

Kamis, 13 Februari 2014

Aksi Masa

Menjelang Pemilu tahun 2014 ini diantisipasi akan terjadi kumpulan orang untuk berkampanye, bisa juga aksi-aksi protes massa...mungkin perllu juga yaa buat tulisan tentang pemikiran tentang alternatif solusi dalam menangani kekerasan massa ditinjau dari perspektif psikologi massa.......tunggu bentar yaa sedang ditulis...
Read more >>

Selasa, 07 Mei 2013

Pemeriksaan Psikologi (Psikotest)



Mengenang sesepuh psikologi yang sangat saya hormati & sayangi, serta dijadikan panutan.....berikut salah satu tulisan beliau yang perlu untuk dipahami......


Sekilas tentang Pemeriksaan Psikologi (Psikotest)
Salah Satu Buah Pemikiran Almarhum Brigjen TNI (Purn) Soemarto, Dipl. Psych

Psikotest dapat didefinisikan sebagai suatu metoda untuk mendapatkan suatu sampel tingkah laku seseorang dalam situasi yang standar. Dapat dikatakan juga bahwa test adalah suatu ‘contoh’ tingkah laku dalam situasi. ‘Contoh’ tersebut diregistrasikan sebagai hasil test dan merupakan tingkah laku yang akan selalu ditunjukkan oleh seseorang dalam situasi yang sama. Situasi yang standar diartikan sebagai kondisi-kondisi yang sama bagi semua orang yang ditest. Jadi Psikotest bukanlah dapat disamakan dengan ujian mengenai pengetahuan. Psikotest bukanlah sesuatu yang perlu dipelajari atau dipelajarkan. Banyak orang yang salah mengerti tentang Psikotest, terutama orang-orang yang menganggap test itu dapat dipelajari dan mereka yang berorientasi pada status, bukan prestasi, sehingga mereka berusaha mempelajari Psikotest dengan cara-cara tertentu dan melakukan pemalsuan atau penipuan (cheating) dengan pertolongan seseorang yang sedikit tahu tentang Psikotest atau bahkan dari seorang psikolog yang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian ia mengira akan mempunyai kesempatan untuk maju dalam karirnya. Tetapi dengan demikian justru ia menipu diri sendiri dan merugikan organisasi.
Adapula orang yang merasa takut jika ia diharuskan menjalani pemeriksaan psikologi, karena sebetulnya ia kurang memahami Psikotest secara betul. Mungkin sikap seperti itu juga dibarengi dengan kecurigaan yang berlebihan ataupun rasa kurang pasti pada diri sendiri. Tentu hasil Psikotest mereka itu tidak akan menggambarkan kemampuan yang sebenarnya, dan bahkan hanya memperlihatkan segi tertentu dari watak atau kepribadiannya saja. Oleh karena itu sebaiknya dalam menghadapi Psikotest orang bersikap wajar dan tidak dibuat-buat, namun sungguh-sungguh mengikuti instruksi pengetest atau psikolog yang memeriksanya.
Lain halnya dengan orang yang atas kehendak sendiri meminta bantuan kepada psikolog untuk diperiksa. Ia akan mengahadapi pemeriksaan psikologi dengan sikap yang lebih terbuka. Maka hasil suatu test sangat tergantung pula kepada sikap yang menjalani test di samping kepada situasi pemeriksaannya. Situasi pemeriksaan perlu diciptakan sewajar mungkin dengan kerja sama dan saling mempercayai antara pemeriksa dengan yang diperiksa. Untuk itu diperlukan waktu yang relatif cukup agar psikolog benar-benar dapat menciptakan suasana at ease bagi yang diperiksa. Dengan demikian orang yang meminta bantuannya akan merasa sangat bebas untuk mengutarakan pikiran, pendapat dan perasaannya baik secara lisan maupun tertulis. Suasana yang penuh minat dan kebebasan itu hanya dapat diciptakan oleh psikolog yang terampil dalam menyajikan test yang memenuhi standar. Mahasiswa psikologi biasanya dilatih untuk mengembangkan keterampilan semacam itu.
Namun dewasa ini, di Indonesia ternyata banyak orang bukan psikolog juga memiliki Psikotest dan menggunakannya dalam rangka seleksi, klasifikasi atau penjurusan studi. Sepintas lalu tampaknya memang sangat mudah menggunakan alat pemeriksaan yang disebut Psikotest itu, asal berpedoman kepada instruksi, cara menghitung (menskor) dan mengevaluasi data, yang biasanya lengkap tersedia bersama alat test itu disertai dengan norma dan validitasnya. Mungkin pekerjaan itu dapat disamakan dengan mengukur tekanan darah dengan mudah oleh siapa saja yang cukup cerdik. Akan tetapi sebenarnya pekerjaan semacam itu menuntut selain pengetahuan yang dalam tentang Psikotest juga tanggung jawab profesional dan alangkah naifnya jika tanggung jawab profesional sekaligus sosial itu dikesampingkan begitu saja. Oleh karena itu, orang harus berhati-hati dalam meminta bantuan psikologi dan perlu mewaspadai praktek psikologi yang kurang memperhatikan tanggung jawab profesional dan sosial itu.
Sebaiknya para calon pengguna jasa psikologi meminta penjelasan dulu kepada ‘psikolog’ atau orang yang memakai Psikotest sebagai salah satu cara menjual jasa, tentang curriculum vitae yang bersangkutan, terutama apakah ‘psikolog’ atau oknum lain itu benar-benar mampu dan berwenang untuk melakukan profesinya dengan menggunakan Psikotest. Hal ini penting agar para calon pengguna jasa psikologi tidak terjebak oleh catatan yang tidak bertanggung jawab.
Psikotest dapat dilakukan secara individual dan berkelompok. Pelaksanaan testing yang dilakukan secara individual atau berkelompok (klasikal) harus memperhatikan syarat-syarat tertentu yang standar, seperti ruangan yang cukup penerangannya, mempunyai hawa segar, penyampaian instruksi yang jelas, mudah dimengerti dan lain sebagainya. Kecuali jika ada maksud lain, misalnya menambah stress untuk kepentingan standarisasi dan research.
Kebanyakan orang mengira bahwa Psikotest itu serba mampu mengungkap semua segi kepribadian, dengan lain perkataan tanpa keterbatasan. Sesungguhnya untuk dapat dikatakan bahwa test itu baik, haruslah syarat-syarat berikut ini terpenuhi: yaitu harus reliable, valid dan mempunyai norma atau standar. Apabila semua itu telah dipenuhi, maka sebagai alat ukur Psikotest dapat dianggap objektif. Sekalipun demikian tidak berarti bahwa Psikotest itu sudah ‘sempurna, tanpa kekurangan’ (infallible). Hasil Psikotest dapat menggambarkan tingkah laku seseorang dengan tidak tepat, karena beberapa faktor, yaitu kondisi orang yang diperiksa (misalnya sedang kurang sehat badan, tidak berminat, hendak memperdaya, tidak siap, takut-takut, dan sebagainya). Kondisi orang yang memeriksa (khilaf menskor, tergesa-gesa menyimpulkan, dan sebagainya), kondisi lingkungan fisik yang tidak memenuhi syarat (misalnya kurang penerangan, bising, hawa udara yang tidak segar dan terlalu panas atau dingin, dan sebagainya). Kondisi yang ideal memang sejauh mungkin diciptakan agar dapat dikatakan standar, sehingga  hasil Psikotest dapat lebih dipertanggungjawabkan. Kiranya dengan demikian dapat dijelaskan, bahwa melakukan pemeriksaan psikologi itu tidak sembarangan dan sebaiknya pemakainya/pelakunya                    mempunyai latar belakang pendidikan psikologi yang formal dan dapat dipertanggungjawabkan.
Membuat Psikotest adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah. Prosedur kerjanya cukup panjang dan memerlukan kecakapan tertentu yang dilandasi oleh pengetahuan statistik dan teori psikologi yang mendalam. Prinsip-prinsip dan prosedur konstruksi Psikotest diajarkan di fakultas psikologi, disertai latihan-latihan yang diperlukan. Test yang telah diciptakan selama ini mungkin sampai kepada jumlah ribuan, namun test yang baik dan sering digunakan/dianjurkan tidak banyak jumlahnya. Di Indonesia tentu pula telah beredar Psikotest yang berasal dari luar negeri. Test tersebut belum tentu seluruhnya telah distandarisasikan, bahkan divalidasikan sesuai prosedur konstruksi test yang lazim. Oleh karena itu para pengguna jasa psikologi perlu waspada terhadap penggunaan test yang belum memenuhi syarat-syarat reliability, validity dan standar atau norma yang diperlukan.
Validity adalah hal yang terpenting untuk diperhatikan dalam konstruksi dan penggunaan semua tipe test. Validity selalu dihubungkan dengan pertanyaan: “Test ini mengukur apa?” Selanjutnya perlu dijawab pula pertanyaan: “Apa arti suatu skor?” dan “Skor ini bercerita tentang apa?” atau “Dengan apa skor pada test ini dapat dihubungkan?” Dalam tulisan ini tidak akan diterangkan sampai terperinci tentang validity suatu test, namun masih perlu diketahui bahwa ada tiga macam validity, yaitu content, criterion dan construct validity. Content validity hendaknya jangan dikacaukan dengan face validity, suatu istilah yang digunakan untuk menunjuk kepada kesan seseorang bahwa test itu ‘relevan’. Ada dua jenis criterion validity, yaitu concurrent validity dan predictive validity. Untuk construct validity perlu dibedakan pula dalam convergent validity dan discriminant validity.
Apabila validity menerangkan hubungan antara hasil-hasil test dan kriteria-kriteria di luar test itu sendiri, maka reliability  lebih menerangkan hubungan-hubungan di dalam test itu sendiri. Jadi prosedur penilaian yang disebut reliability itu menjelaskan kecermatan dan keajegan (konsistensi) hasil yang diukur oleh suatu test. Skor sebagai hasil suatu test hendaknya bebas dari pengaruh-pengaruh penentu lain secara kebetulan, sehingga skor itu dapat dipercaya. Istilah lain untuk reliability seperti yang digunakan oleh Cronbach (1970), ialah generalizability.
Standar atau norma diperlukan agar orang dapat mengerti arti suatu skor yang diperoleh seseorang pada test tertentu. Dengan norma itu orang dapat membandingkan kedudukan skor itu dalam populasi di mana test itu distandarisasikan. Dalam proses interpretasi, skor mentah perlu ditransformasikan kedalam bermacam-macam jenis. Sekedar untuk pengetahuan saja dikemukakan di sini bahwa ada dua jenis transformasi, yaitu percentile score dan standard score. Selain yang penting itu masih ada norma lain, seperti stanine, Wechsler IQ’s, sedangkan TNI AD menggunakan variasi dari standard score (z-Score) yang dinamakan ‘kelas angka’ (punten klasse). Dengan cara pembuatan standar atau norma berdasarkan kelompok tertentu, misalnya kelompok Perwira, Bintara dan Tamtama, atau kelompok pendidikan, misalnya Akmil, Selapa, Seskoad, maka setiap skor yang diperoleh seorang testee dapat diartikan dalam konteks kelompok tertentu. Di USA ada jenis-jenis standard scores seperti CEEB (College Entrance Examination Board) Scores dan AGCT (Army General Classification Test) Scores.
Pembuatan norma untuk objective test (test intelegensi) relatif lebih mudah daripada untuk projective test (test kepribadian), jenis test kepribadian yang menggunakan kuesioner yang sering dinamakan ‘inventories’ masih termasuk objective test. Namun projective test seperti Rorschach, Thematic Apperception Test, Wartegg Zeichen Test, Baum Test, masih lebih sulit prosedur pembuatan normanya karena faktor-faktor lingkungan terutama budaya dan nilai-nilai sosial, serta banyak makna simbolik yang perlu diperhitungkan. Pengalaman klinik para ahli di bidang psikologi ikut menentukan dalam pembentukan kemampuan mengintrepretasikan symptom-symptom yang muncul pada hasil pemeriksaan psikologi yang bersangkutan.
Untuk mendapatkan validity coefficient, reliability coefficient dan pembuatan standar atau norma diperlukan perhitungan statistic. Untuk itu pula diperlukan penguasaan metoda psikometrik, terutama dalam konstruksi test objektif. Menggunakan test yang telah ‘jadi’ memang tampak mudah, namun seorang ahli di bidang psikologi pasti dan harus mengetahui serta menguasai prosedur konstruksi test objektif agar benar-benar bertanggung jawab dalam melakukan profesinya.
Mengingat bahwa hingga saat ini masih banyak orang yang menanyakan cara-cara menghadapi Psikotest, maka berikut ini kami sampaikan beberapa tips yang dapat dilakukan berkaitan dengan Psikotest.
1.             Harus cukup istirahat/tidur sebelum pelaksanaan Psikotest. Hal ini penting dilakukan untuk menghimpun energi yang dapat meningkatkan konsentrasi.
2.             Percaya pada kemampuan diri  sendiri. Tidak perlu kasak-kusuk yang justru dapat mengakibatkan timbulnya kebingungan/ketegangan, apalagi bila informasi yang diperoleh ‘menyesatkan’.
3.             Perhatikan instruksi yang diberikan oleh testor (pengetest). Bila belum jelas, bertanyalah pada testor sebelum waktu untuk mengerjakan test dihitung.
4.             Kerjakan materi test seoptimal mungkin, sesuai dengan petunjuk/ instruksi testor. Penyimpangan terhadap instruksi dapat mengakibatkan kesalahan dalam proses pengerjaan.
5.             Pusatkan seluruh perhatian dan pikiran pada materi yang dikerjakan. Dengan demikian maka energi yang dimiliki dapat dimanfaatkan dengan optimal.
6.             Periksa kembali apa yang sudah dikerjakan, apabila waktunya masih ada (belum ada aba-aba “selesai” / “berhenti”). Hal ini memungkinkan kita untuk mengoreksi/memeriksa kembali jawaban yang diberikan dengan lebih teliti.
Read more >>

Rabu, 19 Desember 2012

Mengembangkan Karakter melalui Olah Raga….. Bisa kah???



Meskipun saya sangat meyakini perlunya keseimbangan yang harmoni antara  aspek kepribadian, akademik, dan jasmani untuk mencapai  suatu kondisi ideal kepribadian (integritas), namun pada kesempatan ini pebahasan akan lebih dititik beratkan pada bidang jasmani melalui pendekatan psikologi olah raga. 

Penerapan psikologi dalam bidang olahraga ini ditujukan untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan seoptimal mungkin dan mengurangi adanya kendala yang ada dalam kepribadiannya.

Sebelum membahas lebih tentang sejaumana hubungan olah raga dengan pengembangan karakter, ada baiknya sekilas kita mempelajari sejarah tentang duania olah raga, khususnya sejarah Olimpiade Kuno (1300  – 776 Sebelum Masehi).
Pada mulanya olimpiade adalah bagian dari ritual keagamaan bangsa Yunani (Greece) dan koloninya untuk menyembah dan memuja dewa Zeus.  Setelah dilakukan ritual keagamaan di sebuah kuil di bukit  Kronus dikota Olimpia, selanjutnya dilakukan sebuah festival/lomba  olahraga yang diikuti oleh ratusan atlit bangsa Yunani yang dimaksudkan sebagai penghargaan dan rasa syukur bagi dewa Zeus.

OLahraga yang diperlombakan pada awalnya adalah berkuda, tinju dan pentathlon yang terdiri dari lompat jauh,lempar lembing,lempar cakram,  lari dan gulat. Pada saat itu para atlit melakukan lomba dengan bertelanjang bulat.  Lomba diadakan setiap 4 tahun sekali di stadion berkapasitas 40.000 dan berlangsung selama 5 hari.

Peserta dan penonton yang diijinkan berpartisipasi hanyalah kaum pria. Selama masa perlombaan berlangsung semua aktifitas peperangan dan sikap sikap permusuhan dihentikan dan dilarang.  Pemenang lomba diberikan mahkota yang terbuat dari daun Zaitun dan diberikan gelar pahlawan. Begitu dihormatinya para pemenang, sehingga sebuah peperangan akan berhenti bila “sang pemenang” melintas medan pertempuran.

Pada 393 Setelah Masehi Lomba di Olimpia dihentikan oleh kerajaan kristen yang berkuasa pada saat itu yaitu Theodore I.  Pada 426 Setelah Masehi Raja Theodore II menghancurkan kota Olimpia.  Selain itu kota Olimpia hancur & hilang akibat bencana alam.

Sejarah  Olimpiade Modern , Olympimsm & Gerakan Olympiade. 
Sejarah Olimpiade Abad 19 kembali pada tahun 1852, ketika arkeolog Jerman Ernst Curtius yang bekerja di reruntuhan Olympia menemukan kembali peninggalan kebudayaan kota Olimpia. Idenya untuk menghidupkan kembali olimpiade diterima oleh  Baron Pierre De Coubertin, seorang  bangsawan prancis. Dengan motto "The important thing is not to win, but to participate" pada tanggal 23 Juni 1884, ia memberikan gagasan untuk membangkitkan kembali Semangat Lomba Olimpia (Olympism) yang dipadukan dengan  penyelenggaraan pertandingan olah raga tingkat internasional (olympic games)  yang kemudian  dikenal dengan gerakan olimpiade (olympic movement).  Ide dasarnya adalah menciptakan kehidupan yang damai di dunia melalui kegiatan olah raga antar bangsa. 

Olimpiade modern yang pertama diadakan di kota Athena pada tahun 1896 mengajak negara-negara di dunia untuk bersama menghidupkan kembali nilai &  kegiatan  Olimpiade sebagai solusi mengatasi krisis sosial, politik akibat dari konflik dan permasalahan di berbagai & antar Negara.  Kegiatan Olimpiade diharapkan dapat memberikan inspirasi dan semangat persaudaraan dalam upaya membangun resolusi perdamaian untuk mengatasi kekacauan yang terjadi di seluruh dunia.  Untuk maksud tersebut dan agar pelaksanaan aktifitas pergerakan olimpiade berjalan secara terpadu dan berkesinambungan  di seluruh dunia  maka ditetapkan piagam olimpiade (Olympic Charter).  Olympic Charter adalah prinsip-prinsip dasar, peraturan-peraturan dan anggaran rumah tangga yang telah tersusun secara sistematik yang dipakai sebagai pedoman oleh IOC.

Pokok Pokok Pikiran Gerakan Olimpiade adalah untuk :
o     Mempromosikan dan menyebar luaskan olahraga  dan nilai filosofisnya (olympism) sebagai dasar pembentukan fisik dan pengembangan moral manusia.
o     Mendidik generasi muda melalui olahraga  dalam semangat saling pengertian dan persaudaraan  yang lebih baik diantara mereka, sehingga   memungkinkan terbentuknya dunia yang lebih damai dan lebih baik.
o     Menyebar luaskan prinsip-prinsip Olimpiade keseluruh dunia, sehingga membentuk semangat internasional.
o     Mempertemukan atlet dunia dalam suatu festival olahraga empat tahunan, yaitu pertandingan olimpiade (Olympic Games).

Olympism Sebagai Pokok Pikiran

o     Olympism adalah dasar fundamental dan filosofi kehidupan yang mencerminkan dan mengkombinasikan keseimbangan antara jasmani (badan yang sehat) dan rohani    (kemauan, moral dan kecerdasan) serta mengharmonikan antara kehidupan keolahragaan, kebudayaan dan pendidikan, sehingga dengan demikian dapat diciptakan keselarasan kehidupan yang didasarkan pada kebahagiaan dan usaha yang mulia, nilai nilai pendidikan yang baik dan penghargaan pada prinsip-prinsip etika.
o     Tujuan Olympism adalah menempatkan olahraga dimana saja sebagai wahana  pembentukan manusia secara utuh yang harmonis dalam  usaha  membangun suatu masyarakat yang damai dengan saling menghormati. Untuk kepentingan ini gerakan olahraga berusaha secara sendiri-sendiri ataupun bekerjasama dengan organisasi yang terkait menciptakan  kegiatan-kegiatan dalam usaha membangun perdamaian yang abadi.

Paradigma Gerakan Olympiade

o    Prestasi olahraga bukan yang utama bagi  atlet dalam suatu kompetisi, melainkan hasil dari proses keseluruhannya,  yaitu terbangunnya kemuliaan diri yang merupakan kombinasi & keseimbangan antara kualitas & keterampilan fisik (skill), sikap/kemauan (attitute), dan kecerdasan pikiran (knowledge) sebagai prinsip dasar hidup.  
o    Nilai-nilai olympiade (olympism) sebagai filosofi,  mengandung arti tidak ada pembedaan dalam hal; ras, suku, agama, ideologi & warna kulit, serta merupakan usaha untuk menciptakan  perdamaian dunia. 

7  (Tujuh)  Komponen Standar Dari Sasaran Pembentukan Moral Dalam Olympism.

1.         Kesempurnaan Dalam Performansi (Excellence in performance)
2.         Berpartisipasi Dengan Kegembiraan & Kesenangan (Joy and pleasure in participation)
3.         Kejujuran dalam berkompetisi (Fairness of play) 
4.         Rasa Hormat Terhadap Sesama (Respect for other nations, cultures, religions, races and individuals)
5.         Pengembangan Kualitas Manusia (Human quality development)
6.         Belajar Secara Bersama & Terpadu (Leadership by sharing, training, working and competing together )
7.         Kedamaian Antara Bangsa (Peaceful co-existence between different nations peace).

Penjabaran Nilai-Nilai Gerakan Olimpiade & Olympism Secara Lebih Luas Dalam kehidupan mencakup :

1.         Visioner (tujuan jangka panjang)
2.          Peacefull (kedamaian)
3.          No Discrimination (tidak diskriminatif)
4.          Mutual Understanding (saling memahami)
5.          Friendship (persahabatan)
6.          Solidarity (solidaritas)
7.          Fair Play (kejujuran,adil,wajar)
8.          Excellence (keunggulan)
9.          Fun (kesenangan)
10.      Respect (menghargai)
11.      Human Development  (pengembangan diri) 
12.      Leadership (Kepemimpinan)
13.      Motivation (semangat,pantang menyerah)
14.      Team Work (kerjasama,sinergi)

Demikian tingginya nilai dalam dunia olah raga senastiasa diikuti pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang tersebut.  Science & Technology in Sport  atau lebih dikenal dengan istilah sport science mempelajari olah raga dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, karena dari kegiatan sederhana saja, seperti menedang bola banyak aspek yang berpengaruh…”there’s a lot of Science involved in the simple act of kicking a ball” dapat kita lihat dalam ilustrasi gambar di samping ini.

Dalam bagan berikut ini tampak jelas kompleksitas dan keterlibatan dalam berbagai disiplin ilmu untuk mencapai suatu prestasi puncak seorang atlet.  Pada kesempatan ini pembahasan akan difokuskan pada psikologi olah raga


Psikologi Olah Raga
Psikologi olahraga pertama kali dikenalkan oleh Norman Triplett pada tahun 1898. Laboratorium Psikologi Olahraga pertama di dunia didirikan tahun 1920 oleh Carl Diem di Deutsce Sporthochschule di Berlin, Jerman.  Tahun 1925 Coleman Griffith dari Universitas Illinois mendirikan laboratorium psikologi olahraga di Kawasan Amerika Utara. Griffith tertarik pada pengaruh faktor-faktor penampilan atletis seperti waktu reaksi, kesadaran mental, ketegangan dan relaksasi otot serta kepribadian. Ia menerbitkan dua buah buku di dunia Psikologi Olahraga, yaitu The Psychology of Coaching (1926)  & The Psychology of Athletes (1928).   Pada tahun yang sama, di Eropa juga berdiri sebuah laboratorium Psikologi Olahraga yang didirikan oleh A.Z Puni di Institute of Physical Culture in Leningrad. Namun Setelah periode tersebut psikologi olahraga mengalami kemandegan dan baru pada tahun 1960-an psikologi olahraga kembali mulai berkembang. Perkembangan ini ditandai dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan membuka konsentrasi pengajaran pada Psikologi Olahraga. Puncaknya adalah pembentukan International Society of Sport Psychology (ISSP) oleh para ilmuan dari penjuru Eropa. Kongres internasional pertama diadakan pada tahun yang sama di Roma, Italia.  Di dunia olah raga terkenal suatu ungkapan sebagai berikut :

At the top level of the sport, where many athletes have equal physical ability, the difference between a great and a good performance or between winning and losing is often related to mental rather than physicsl abilities

Dari ungkapan tersebut jelaslah berapa penting dan signifikannya kondisi psikologi seorang atlet dalam mencapai prestasi optimalnya.Terlebih lagi jika kita dalami 7 (tujuh) Komponen Standar Dari Sasaran Pembentukan Moral Dalam Olympism, dan aplikasinya dalam sendi-sendi kehidupan yang sarat dengan nuansa psikologi.   Pendekatan psikologi dalam olah raga sebagai upaya mencapai prestasi yang maksimal seyogianya dipahami secara utuh dan menyeluruh melalui pemahaman psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, psikologi klinis, psikologi sosial, dan psikologi organisasi. 

Kembali kepada pokok pembahasan kita “bagaimana berolah raga dapat mengembangkan karakter seseorang ?”

Diperlukan upaya pendekatan sesuai dengan fase pertumbuhan manusia agar pelatihan atau olah raga yang dilakukan memiliki dampak pada perkembangan karakter seseorang.  Berikut fase-fase perkermbangan tersebut dan bagaimana pelatihan dapat dilakukan.

Pada Fase Anak-anak (6-12 Th).

            Proses latihan perlu di-skenario-kan sebagai arena bermain (mendapatkan kesenangan & kebebasan bergerak)
            Mengembangkan keterampilan gerak fisik/teknis  (motorik dan kelenturan)
            Dorongan/motivasi diarahkan untuk membentuk kemandirian yang prestatif
            Pengembangan nilai- nilai sosial dan kerjasama
            Penanaman nilai -nilai moral (kejujuran, sportifitas , respek dan saling menghargai)

Pada Fase Remaja (12-16 Th)

            Proses latihan sebagai proses membentuk jati diri
            Mengembangkan keterampilan teknis dan taktis
            Dorongan/motivasi diarahkan untuk membentuk prestasi tertentu
            Pengembangan daya juang dan saing dalam berkompetisi
            Penanaman nilai- nilai profesional seorang atlit (pengetahuan, keterampilan dan sikap)

Pada Fase Dewasa (16-21 Th)

            Proses latihan sebagai proses pemantapan menuju prestasi puncak
            Mengembangkan keterampilan teknis, taktis dan strategis
            Dorongan/motivasi diarahkan untuk mencapai dan mempertahankan target prestasi tertentu
            Pemantapan dan pemeliharaan daya juang dan saing dalam berkompetisi
            Pemantapan dan pemeliharaan sikap profesional seorang atlit berprestasi (intelektual, emosional, spriritual dan daya tahan)
Upaya yang dilakukan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut dengan sasaran kepada keterampilan psikologi (Psychological Skills) yang perlu dimiliki oleh setiap individu agar dapat memperoleh  kerberhasilan dalam kehidupannya.  Terdapat 9 keterampilan psikologi  yang perlu dimiliki oleh setiap atlet bahkan setiap individu sebagai berikut:

1.         Attitude / Sikap ……………Atlet yang Sukses :
·            Menyadari bahwa sikap merupakan pilihan
·            Selalu bersikap positif
·            Menyadari bahwa olah raga adalah suatu cara mengalahkan diri sendiri, dan mampu belajar dari keberhasilan
·            Selalu mengejar prestasi yang lebih tinggi
·            Menghargai lawan tanding, para pelatih, da  para official

Pembentukan sikap  merupakan hal yang pertama dan utama bagi setiap individu. Melalui pembentukan sikap inilah kelak seorang individu akan mengembangkan dirinya.  Dengan mengembangkan niat dan pikiran yang positif seorang atlet akan membentuk sikap sportifitas yang tinggi, senantiasa termotivasi untuk meraih prestasi maksimal yang dapat diraihnya.  Adanya masalah, hambatan dan kendala dalam berlatih maupun saat bertanding akan dihadapi sebagai tantangan yang harus diatasi dan dilalui karena merupakan suatu proses dalam menapak tangga jenjang prestasi yang lebih tinggi.
Keterampilan psikologi yang mendasar berikutnya yang perlu dimiliki oleh atlet adalah motivasi. Hal ini juga tentunya terkait dengan target (goal) dan komitmen untuk meraih sesuatu dalam jangka waktu tertentu.  Dengan motivasi yang sesuai, seorang atlet dapat menampilkan potensinya secara optimal.  Sebaliknya, tanpa motivasi yang memadai mereka hanya akan hanyut dalam rutinitas dan tidak menampilkan suatu peningkatan prestasi yang berarti.

2.         Motivation / Motivasi……Atlet yang Sukses:

         Menyadari bahwa dia akan memperoleh penghargaan dan keuntungan dari keterlibatannya dalam Olahraga
         Mampu bertahan menghadapi kesulitan dan hambatan
         Dengan berpartisipasi dalam Olahraga maka atlet akan merasakan manfaatnya

3.         Goals and Commitment /Sasaran dan Komitmen… Atlet yang sukses :
             Menetapkan tujuan jangka panjang maupun jangka pendek yang realistis, terukur dan memiliki batas waktu.
             Menyadari tingkat prestasi saat ini dan mampu mengembangkan rencana yang rinci dan spesifik untuk mencapai sasaran.
             Memiliki komitmen tinggi untuk mencapai sasaran dan menjalani pelatihan yang diprogramkan

     
Sebagai makhluk sosial setiap atlet  juga perlu memiliki kecakapan sosial.  Meskipun beberapa cabang olah raga sangat bersifat individual, namun  bukan berarti atlet tersebut tidak memerlukan kecapakan sosial.  komunikasi dan relasi dengan lingkungan sosial, termasuk sesama atlet, dengan pelatih, manager, dan yang lainnya sangat diperlukan dalam proses pengembangan diri.

  

4.         People Skill / Kecakapan Sosial….Atlet yang sukses:
             Menyadari bahwa ia adalah bagian dari suatu sistem yang besar, dimana di dalamnya terdapat keluarga, teman, sesama atlit, pelatih, dll.
             Mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya dan kebutuhan kepada orang-orang di sekelilingnya sekaligus mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan pikiran dan perasaan orang lain
             Menangani konflik sesuai dengan situasi yang ada

Keterampilan psikologi berikut merupakan tingkat lanjutan yang diperlukan dan dapat dilatih melalui PST (Psychological Skills Training).

5.         Self Talk / Sugesti Diri.   Mensugesti diri diperlukan untuk menumbuhkembangkan keyakinan pada diri sendiri dalam mengatasi segala permasalahan yang dihadapi.  Melalui suatu kalimat positif yang dilatihkan dan diyakini mampu memberikan sugesti diri tersebut akan membuahkan hasil yang luar biasa.

Atlet yang sukses:
       Tetap percaya diri saat menghadapi situasi yang sulit melalui sugesti diri yang realistis dan positif
       Berbicara pada diri sendiri seolah-olah berbicara pada sahabat  terbaik
       Selama pertandingan menggunakan sugesti diri untuk mengolah perasaan, pikiran dan tingkah laku

6.         Mental Imagery / Imajeri.  Ada pendapat bahwa sesuatu peristiwa tersebut terjadi dua kali, yang pertama ada dalam bayang (imagery) kita, yang berikutnya adalah dalam realitanya.  Latihan imagery diperlukan atlet dapat menampikan performa sesuai yang ada dalam bayangannya.  Semakin kuat dan  nyata imagery  tersebut tercipta semakin dekat realita akan didapatkan.

Atlet yang sukses:
       Membayangkan  penampilan terbaik sebagai persiapan menjelang pertandingan
       Menciptakan dan menggunakan Imajeri yang detil, spesifik, dan realistis
       Menggunakan Imajeri selama pertandingan sekaligus sebagai upaya bangkit kembali dari penampilan yang buruk


7.         Dealing effectively with Anxiety /Mengelola Kecemasan.  Ada kecemasan yang bersifat negatif yang menghasilkan energi negatif pula, sehingga berdampak kontra produktif.  Mengelola kecemasan yang ada pada dirinya menjadi energi positif yang mendorong dirinya untuk menampilkan performa terbaiknya.

Atlet yang sukses:
       Dapat menerima kecemasan sebagai bagian dari olahraga
       Pada tingkat tertentu kecemasan dapat membantu meningkatkan prestasi
       Mengetahui cara mengurangi kecemasan yang berlebihan

8.         Dealing Effectively with Emotions /Mengelola emosi secara efektif.  Tanpa bermaksud mengecilkan aspek pribadi lainnya seperti aspek intelektual, mengelola emosi sangat dipercaya dapat memberikan dampak yang sangat luar biasa dalam mendukung keberhasilan seseorang.

Atlet yang sukses:
       Menyadari sepenuhnya bahwa emosi yang kuat seperti antusiasme, kemarahan, dan kekecewaan merupakan bagian dari olah raga kompetisi
       Mampu menggunakan emosi untuk meningkatkan dan bukan menjadi hambatan dalam pencapaian prestasi

9.         Concentration /Konsentrasi……Atlet yang sukses:
         Mengetahui apa yang harus menjadi pusat perhatian dalam menghadapi kompetisi
         Menguasai cara memelihara konsentrasi dan menghalau gangguan, baik yang dari dalam dirinya maupun dari lingkungan
         Mampu mengembalikan konsentrasi yang hilang selama bertanding
         Mampu memusatkan perhatian pada situasi yang sedang dihadapi (here and now)


Untuk  pengembangan karakter sehingga mampu mencapai kondisi psikologi yang prima, maka perlu dilakukan tahapan aplikasi intervensi psikologi secara paripurna.


Kesimpulan

Olah raga bukan sekedar mengolah raga atau tubuh, melainkan merupakan suatu kegiatan yang sangat kompleks yang dipelajari berbagai disiplin ilmu. Oleh karena itu, melalui olah raga yang teratur dan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah seyogianya dapat menjadi media pengembangan karakter.....sedangkan, kondisi karakter yang prima merupakan keseimbangan yang harmoni dari kondisi dari mind, body and spirit.

Salam Olah Raga……
Referensi
o     Dispsiad, Bahan Pelatihan & Pengajaran Psikologi Olah Raga
o     Gunarsa,S.D., Psikologi Olahraga Prestasi PT BPK Gunung Mulya ,Jakarta, 2007
o     Lilik Sudarwati Adisasmito, Mental Juara “Modal Atlet Berprestasi”, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007
o     Rita Sri Wahyusi  Subowo, Pidato Pengukuhan Doktor HC di Universitas Negeri Semarang
o     Thelma S.Horn., Advance In Sport Psychology 3rd Edition, champaign 2008. Human Kinetics
o     Monty P.Satiadarma, Dasar-Dasar Psikologi Olah Raga, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 2000


Catatan kecil tentang 5 prinsip pembelajaran :

1.         Mulai dari tujuan mulia (start from noble goals)
2.         Nikmati perjalanan untuk mendapatkan tujuan (joy the way to get the aim)
3.         Transaksi Pertama (First Transaction)
4.         Program berkelanjutan (Continuity Program)
5.         Harmoni dalam perbedaan (Rainbow harmony in diversity)

Read more >>