Kamis, 24 Juli 2014

To develop the Adversary Profile Concept as an effort to integrate difference in the framework of strengthening the totality of the NKRI

Accordingly with the jargon of Bhinneka Tunggal Ika, Unity in Diversity, the Indonesian condition is indeed diverse;  at least there are more than 300 ethnic groups, or 1340 tribes, 737 languages and 6 religious groups spread throughout Sabang to Merauke. These differences have the potentials to generate conflicts, which in the past have been manipulated by the colonial rulers with their dissension policy. However, this difference also has the potential to generate a great power if it is managed to be integrated conducively in the form of awareness of having  a nation and a state.

The awareness of having a nation began to spring with the birth of the Boedi Oetomo movement,  and progressively found their form through the Kongres Pemuda, the Youth Congress, wihich gave birth to the Sumpah Pemuda, the Youth’s Oath.  Subsequently developing  during the era of the independence movement, strengthening unity and totality, solidarity, sense of sharing the same fate, which generate the fighting spirit to oust the colonial rulers from Bumi Nusantara, the fatherland.  The independence movement has succeeded in seeing the nation to be an independent, united, and sovereign with the declaration of the independence of Indonesia. This era was the golden age of the fertile growth of the nationality concept in the hearts, thoughts, attitudes and actions of the entire nation’s components.  This issue was made possible by the presence of a significant factor, which is the colonial ruler as a common adversary, which serves as a unifier. Now the question is, what will happen if the unifier is no longer there?

Presently, Indonesia does not yet have this unifier and has not learned much about difference;  we are more adrift and asleep in the perception of equality as a strength.  Difference, when not well-managed, will eventually outlet in dissension and destruction.

With that in mind,  this opportunity is taken to offer the concept of “Adversary Profile” which is the reflection of three elements; Toughness, Resilience, and Flexibility. These three aspects are believed to be able to generate individual awareness to survive and at the same time to weave  conducive interactions in differences in his community.

Accordingly, it is necessary to undertake a study I depth whether the three elements could serve as a prime solution to conclude difference in the strengthening of the totality of the NKRI.


Read more >>

Senin, 21 April 2014

POKOK POKOK PIKIRAN TENTANG ALTERNATIF SOLUSI MENANGANI KEKERASAN MASSA DITINJAU DARI PERSPEKTIF PSIKOLOGI MASSA GUNA MENUNJANG KEAMANAN DALAM NEGERI


Latar Belakang
Keamanan dalam negeri dalam pengertian universal teoritis adalah  kondisi kehidupan nasional  secara menyeluruh, mencakup aspek politik, ekonomi, sosial budaya dan kewilayahan berada dalam keadaan stabil dinamis, damai, tertib dan tenteram. Namun realitas menunjukan kondisi keamanan dalam negeri tak mungkin nihil dari adanya berbagai gangguan. Sesuai dengan Inpres No 2 tahun 2013 tentang Penanganan Gangguan Kamdagri, gangguan itu mencakup berbagai  permasalahan yang berkaitan dengan dinamika politik, ekonomi, dan sosial budaya; dapat berbentuk (1) perseteruan antarumat beragama dan/atau interumat beragama, antar suku, dan antaretnis; (2) sengketa batas wilayah desa, kabupaten/kota, dan/atau provinsi;  (3) sengketa sumber daya alam antar masyarakat dan/atau antar masyarakat dengan pelaku usaha; atau distribusi sumber daya
Berdasarkan catatan Kemdagri, jumlah peristiwa konflik sosial yang menonjol pada tahun 2010 tercatat 93 peristiwa; tahun 2011, 77 peristiwa; tahun 2012, 128 peristiwa; dan s.d akhir Oktober 2013, 39 peristiwa. Peristiwa tersebut  merupakan implikasi dari kebebasan masyarakat untuk menyatakan pendapat dimuka umum yang dijamin UU namun pada kenyataannya  ekspresi yang diwujudkan melalui demonstrasi massa mengarah anarkhis dan kerap menjadi tindak kekerasan yang melanggar hukum
Begitu banyaknya aksi-demontrasi yang dilakukan oleh kelompok massa dengan berbagai kepentingannya, dan mengarah pada tindakan destruktif menimbulkan gangguan pada stabilitas kehidupan masyarakat. Atas dasar itulah Pemerintah dan DPR RI telah membentuk landasan hukum bagi penanganan konflik sosial yaitu  UU No. 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial ditindaklanjuti dengan terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) No. 2 Tahun 2013 tentang Penanganan Gangguan Keamanan Dalam Negeri pada bulan Januari 2013, dan diimplementasikan dengan membentuk Tim Terpadu dan penyusunan rencana aksi  mulai tingkat pusat sampai dengan timgkat kabupaten/kota
Penanganan gangguan kamdagri belum mampu mencegah terjadinya kekerasan sosial, peran Polri dan keterpaduan upaya sinergisitas internal Tim terpadu seolah terlambat, karena penetapan status keadaan konflik tak kunjung diberlakukan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota yang wilayah kewenangannya dilanda konflik.
Perilaku kolektif massa
Perilaku kolektif ini meliputi perilaku kerumunan/crowd dan perilaku massa/aksi massa  yang dalam pokok bahasan termasuk perilaku dalam keadaan bencana, kepanikan, desas-desus, histeria massa, propaganda, pendapat umum dan revolusi.  Perilaku kerumunan (crowd) bersifat sementara dan memberikan reaksi secara bersamaan terhadap suatu rangsang/stimulus tertentu.   Interaksi sosial antar anggota terjadi secara langsung dalam waktu yang singkat dan bersifat episodik.  Umumnya mereka tidak saling kenal, bentuk perilaku yang ditampilkanpun tidak berstruktur, tidak ada aturan, tradisi atau pola yang dapat dijadikan pedoman, dan tidak ada pengendalian formal atau pemimpin yang ditunjuk.  Kelompok ini bisa saja menjadi liar (reaktif) atau diprovokasi agar terarah pada suatu sasaran tertentu sampai batas tertentu yang dapat dipahami/dianalisa, sehingga dapat diprediksi atau dikendalikan.  
Berbeda dengan kerumunan, aksi massa merupakan sejumlah orang yang relatif besar dan tersebar yang memberikan reaksi terhadap satu atau lebih rangsangan secara perorangan tanpa saling kenal satu dengan yang lainnya. Pada awalnya dari kerumunan yang belum memiliki pembagian tugas secara teratur dan mengikat, ada penggeraknya dan bila penggerak hilang maka akan berubah kembali menjadi kerumunan, berjangka waktu lebih lama dan tercipta dari jumlah keseluruhan tidak yang dilakukan oleh banyak orang (melakukan tindakan yang sama, misalnya  penjarahan, pembakaran, perusakan atau tindakan anarkis lainnya).  Penyebaran aksi massa merupakan penyebaran suasana hati, perasaan atau suatu sikap yang tidak rasional, tanpa disadari dan berlangsung secara relatif cepat didukung oleh beberapa faktor antara lain : Anonimitas, semakin tinggi kadarnya, semakin besar kemungkinannya melakukan tindakan ekstrim;  impersonalitas; sugestibilitas; tekanan jiwa / stress; interaksional; dan reaksi sosial. Massa merupakan kolektivitas yang merasa berkuasa karena berkerumun dalam suatu kelompok yang besar.  Dalam himpunan massa, orang per orang berlindung dibalik kerumunan dan ketika beraksi massa gampang tergoda merusak fasilitas publik, merampas hak orang lain, mempertontonkan kekerasan sekaligus kebodohan serta kebrutalan.
Perkembangan terjadinya massa dapat digambarkan sebagai berikut: Crowds  adalah sekumpulan orang (kerumunan) bersifat sementara yang memberikan reaksi secara bersama-sama terhadap suatu stimulus tertentu. Dalam perkembangan dinamika selanjutnya crowds dapat berkembang menjadi gerakan massa aktif (mobs) yang bersifat agresif atau pasif (audiences) yang terjadi secara disengaja (konvesional) atau kebetulan (kasual). Mobs dapat berupa tindakan-tindakan aktif dapat bersifat agresif yang mengarah pada tindakan kerusuhan (riot), perusakan atau penghancuran, teror, pembunuhan, pembakaran, penganiayaan, penjarahan/perampasan dan tindakan anarkis lainnya. Mobs yang bersifat ekspresif biasanya dinyatakan dalam kegiatan bersama sebagai pelepasan emosi seperti arak-arakan, pesta adat dan unjuk rasa secara damai. Diantara kedua hal tersebut terdapat reaksi-reaksi panik akibat melarikan diri dari situasi yang menakutkan, mengejutkan, dan mengancam, serta bisa pula disertai tindakan brutal / anarkis.  Sedangkan audiences dapat terjadi secara kebetulan atau direncanakan yang sifatnya mencari hiburan / rekreasi, mencari informasi, dalam rapat umum, dan penerangan. 
Pembagian massa dapat dilihat dari bentuk, sifat maupun gerakannya. Dilihat dari bentuknya terdiri dari Massa abstrak yang merupakan sekumpulan manusia yang belum terikat kesatuan norma emosi dan motif. Embrio masa konkrit bisa bubar tiap saat. Massa konkrit yang merupakan sekumpulan manusa yang sudah memiliki ikatan bathin (emosi , motif, solidaritas, dll). Terdapat persamaan norma/aturan, memiliki struktur yang jelas dan memiliki potensi dinamis.  Dilihat dari sifatnya terdiri dari Massa ekspresif merupakan kelompok yang bersama-sama melepaskan tekanan jiwa dalam kegiatan  tertentu.  Misalnya: Mimbar bebas, arak-arakan  (festival budaya/keagamaan), unjuk rasa tanpa kekerasan, namun bila kelompok semakin membesar dan dimanfaatkan maka dapat berubah menjadi  massa aktif.  Massa aktif merupakan suatu kelompok yang cenderung melaksanakan aksi/tindakan secara serentak.  Secara bersama melepaskan tekanan psikologis melalui tindakan tertentu.  Umumnya kelompok ini berawal dari kelompok tidak puas, muncul ide baru yang bertentangan dengan ide yang ada diulang (clise) dan selanjutnya menunggu kesempat untuk menjadi aksi massa.  Dilihat dari gerakannya terdiri dari : massa Progresif  (Target perubahan/pembaharuan, biasanya bersifat radikal), Status quo (Berlawanan dengan kelompok progresif. Mempertahankan sikap / sistem lama dan selalu konflik dengan gerakan progresif  sampai salah satu menjadi kalah/hancur), dan massa Reaksioner yang merupakan kelompok untung-untungan atau mencari kesempatan,  fleksibel/oportunis yang penting tujuan kelompok berhasil.  Menyerang sesuau yang telah lalu, yang sedang terjadi saat ini, bahkan yang akan datang.
Setiap  gerakan massa  merupakan kompleksitas yang disebabkan oleh banyak variabel, sehingga sulit untuk menduga atau memperhitungkan secara hipotetis frekuensi dan intensitas dari gerakan massa yang terjadi.  Diawali kondisi psikologi seperti adanya frustrasi, konflik menyebabkan stress yang merupakan kondisi laten.  Pada kondisi ini, kerumunan dapat dipicu melalui suatu peristiwa di lingkungan yang menyebabkan terjadinya aksi massa.  Maraknya aksi massa merepresentasikan kondisi emosianal laten yang ada pada masyarakat dan menggejala dalam rasa tidak puas, marah, takut, kebencian serta perasaan negatif lainnya.  Konflik yang meledak menjadi aksi  massa seringkali tidak ada kaitan dengan faktor pemicu.  Setelah massa bergerak di lapangan tujuan  seringkali menjadi tidak penting. Hal yang lebih penting adalah pada pelepasan tekanan kejiwaan melalui tindakan-tindakan yang sudah tidak terkendali / brutal, sehingga dapat dimanfaatkan oleh kelompok yang memiliki tujuan lain.    Beberapa masalah sosial (sumber frutrasi), yaitu permasalahan sosial yang dipandang sebagai Tragedi, seperti penyakit sosial, kenakalan remaja; Ketidak adilan, seperti kesenjangan sosek, hak sosial, dan kepastian hukum/perlindungan hukum; Ancaman, seperti narkoba, perusakan lingkungan, kepadatan, peduduk,  sara,  inflasi, dan urbanisasi; Tindak kejahatan, seperti pembunuhan, perkosaan, main hakim sendiri, dan pemerasan/malak; Campur tangan, seperti kebebasan berbicara, berkumpul, menulis, pers, dan melakukan aktivitas tertentu; Kurang peradaban, seperti birokrasi yang berbelit-belit, upah di bawah UMR, KKN, kualitas media massa & pendidikan yang rendah.
Terjadinya konflik sosial terjadi karena adanya objek / isue yang dipertentangkan jelas solusi menang / kalah, kompromi, dsb.  Hal yang  yang dipertentangkan tersebut seringkali tidak memiliki latar belakang yang jelas. Objek yang dipertentangkan tidak mencerminkan masalah pokok/utama. Penyebabnya bersifat “intrinsik”, sepert harga diri, kecewa, sakit hati, dendam, rasa tidak aman / terancam dsb. Konflik yang terjadi dibelakang aksi massa cenderung bersifat autistik, yaitu tidak memiliki permasalahan yang jelas, melainkan tersirat ketika sedang menjalankan aksinya.  Konflik yang di masyarakat secara vertikal dampak dari sistem dan kebijakan contoh  pekerja  vs  pengusaha  terkait dengan permasalahan UMR, limbah, dsb.  Sedangkan konflik horizontal  biasanya bersifat SARA.  Konflik sosial juga dapat terjadi karena terjadi kekosongan kekuasaan yang disebabkan antara lain oleh kurang atau tidak  berwibawa Pemerintah atau aparat penegak hukum tidak berfungsi sesuai dengan perannya masing-masing.
Persoalan dan Pemecahannya
Guna menunjang penanganan kamdagri secara antisipatif dan soft approach, maka pilihan pendekatan psikologi massa cukup relevan untuk ditempuh dalam menangani konflik sosial   Untuk itulah beberapa persoalan yang perlu dipecahkan antara lain : (1) Perilaku individual, perilaku massa dan perilaku sosial; (2) Pembentukan kelompok massa; (3) Karakter perilaku massa (mengapa massa aktif melakukan berbagai tindakan kekerasan  dalam demonstrasi); (4) Peran para aktor (K/L/Pemda dan para tokoh, cara mengemukakan pendapat sesuai dengan aturan yang berlaku, tata cara demonstrasi yang sesuai dengan aturan yang berlaku, sehingga Demonstrasi tidak mengarah pada tindak. Pilihan solusi antisipatif berbasis soft power atau pendekatan hard power yang hanya relevan jika semua pedekatan soft power mengalami kegagalan,
Untuk dapat menggunakan pendekatan soft power perlu untuk memamhi pembentukan kelompok massa, yaitu melalui suatu proses psikologis, seperti : Imitasi merupakan prilaku meniru yang terjadi secara lahiriah tanpa adanya suatu kritik tertentu terhadap hal-hal yang ditirunya, contohnya masyarakat mengikuti menggunakan baju kotak-kotak berwarna untuk megidentikkan dirinya dengan Jokowi yang pro perubahan bagi Jakarta; Empati merupakan suatu perasaan yang terjadi karena menyelami suatu situasi atau keadaan secara mendalam, sehingga dapat menghayati seperti mengalaminya sendiri, contohnya amarah masyarakat terhadap pelaku sopir penabrak orang-orang di trotoir tugu tani yang berada dalam pengaruh narkoba sebagai wujud empati terhadap para korban;  Simpati merupakan bentuk dari perasaan, merasakan yang disertai oleh pengertian dan pemahaman, sehingga biasanya diikuti oleh prilaku tertentu yang menunjukan rasa simpatinya tersebut, contohnya tindakan menghimpun koin bagi yang seseorang yang sedang diperkarakan oleh rumah sakit karena mengeluh tentang pelayanan rumah sakit tersebut kepada temannya via email; juga Sugesti merupakan suatu kondisi menerima suatu pandangan atau sikap tertentu tanpa adanya suatu kritik, contohnya perilaku memborong dan menimbun BBM karena melihat orang-orang lain melakukan hal yang sama sebagai akibat isu kenaikan harga BBM.  Pemahaman mendalam terhadap proses ini diperlukan untuk mampu menangani perilaku massa yang dapat mengarah kepada perilaku tindak kekerasan.
Psikologi massa merupakan ilmu yang  mempelajari dinamika perilaku massa, dalam hal ini massa diartikan sebagai sekumpulan atau kerumunan manusia yang belum memiliki suatu ikatan apapun. Secara internal, terdapat kekuatan individu untuk bergabung dengan suatu kelompok yang bersifat instinktif, reflektif, asosiatif atau sugestif yang berpengaruh pada struktur dan dinamika massa.  Struktur massa merupakan kondisi fisik dan mental pelaku, serta homogenitas antara lain meliputi usia, jenis kelamin, status sosial, dan suku.  Sedangkan dinamika massa mencakup motivasi, intensitas dan kualitas dari gerakannya. Disisi lain, secara eksternal, dukungan masyarakat, ketepatan waktu (momentum), stimulus/rangsangan, seperti jumlah kelompok, juga turut akan berpengaruh pada aktivitas (bervariasi dari yang tanpa kekerasan sampai dengan kekerasan) dan sasaran, seperti politik, sosial dan ekonomi.  Kedua faktor tersebut (eksternal maupun internal) saling berinteraksi dalam proses terbentuknya massa, baik yang bersifat spontan  maupun terorganisir. 
Massa biasanya terjadi spontan terjadi begitu saja, tidak berstruktur, terorganisir dan terkoordinasi, terdiri dari sejumlah besar orang yang bertindak secara serentak dan tidak terkait dalam kelompok tertentu. Mereka melakukan suatu hal atau tindakan yang sama yang merupakan tindakan yang lebih bersifat individual dan tidak ada kontak langsung yang berkesinambungan.  Massa seperti ini dapat terjadi dengan seketika dan  bubar dengan seketika, umumnya dipicu oleh suatu kejadian yang ada di lingkungannya yang memancing reaksi emosi yang sangat kuat.  Sedangkan massa terorganisir memiliki ciri-ciri seperti homogenitas, memiliki tujuan / sasaran lebih jelas, tindakan lebih terarah, memiliki jiwa korsa yang kuat, keyakinan lebih tinggi, motivasi lebih konstan dan prinsipil, kontinuitas pada aksi-aksinya, disertai disiplin lebih kuat dan lebih militan.  Upaya untuk  mempertinggi jiwa kelompok melalui kontinuitas dari gerakannya, kesamaan ide (dimana kepentingan yang bersifat pribadi diredusir), rangsangan psikologis, seperti janji- janji atas dasar kebutuhan nyata / objektif, diberikan slogan–simbol guna merangsang sentimen kelompok, suku, agama dsb, serta terdapat diferensiasi spesialisasi dan fungsi dari anggotanya.
Pembentukan massa mencakup 3 tahapan, yaitu tahap warming up, agresif dan vakum.  Pada tahap warming up dilakukan upanya mengumpulkan individu/simpatisan dengan memfokuskan emosi melalui yell-yell, slogan dan atribut lainnya yang dapat membakar emosi massa.  Pada tahap agresif, kondisi emosi menigkat yang menimbulkan ketegangan, sehingga membutuhkan penyaluran untuk melampiaskan rasa frustrasi, agresivitas dan sifat destruktif.  Selanjutnya akan memasuki tahap vakum, yaitu telah terlampiaskannya emosi, terjadi kelelahan, kesadaran individu muncul,   kehampaan, vakum, depresif dan merupakan fase kritis
Karakter atau sifat-sifat massa dapat dipahami dari sejumlah fenomena berikut ini: (1) Kekuatan anonim merupakan kekuatan bukan penjumlahan tapi kompleksitas kekuatan fisik & psikis yang memiliki dinamika tersendiri dan sulit untuk dikendalikan, ciri-cirinya: individual menghilang, tanggung jawab moral individual bergeser pada kelompok; (2) Kolektivitas homogen, biasanya tanpa direncanakan lebih dulu, didasari kepentingan emosional yang mendasari unsur simpati, sugesti, dan jiwa kolektif; (3) Irasional, bukan inteligensi objektif yang rasional tetapi inteligensi kolektif yang lebih bersifat asosiatif dan instinktif, kurang rasional dan lebih mudah terbawa arus sentiment; (4) Pengendalian diri berkurang, dimana unsur rasio berkurang, kesadaran menurun ingin segera bertindak dan sulit dikendalikan, serta berbuat sekehendaknya; (5) Tindakan primitif, artinya kemunduran dalam bertindak (regresi ketingkat primitif) yang tampil dalam tindakan yang bersifat agresif dan destruktif; (6) Sensitif dan eksplosif, tampil dalam perilaku sangat emosional serta labil, rasa takut hilang, mudah tersinggung, mudah  dipengaruhi tetapi juga sulit dikendalikan, impulsif,  “pemuasan diri jadi faktor utama”, mudah meledak (eksplosif) dan menyerang (ofensif); (7) Menular, merupakan dinamika sosial, mudah meniru dan ditiru serta dimungkinkan pada waktu dan tempat yang berbeda; (8) Sugestibilitas atau mudah dipengaruhi, sehingga menyebabkan mudah ditunggangi oleh kelompok lain yang lebih memperkeruh suasana.
Pelaku massa terdiri dari pelaku aktif yang merupakan pelaku utama, pelaku ikut-ikutan sebagai simpati dan ikut bergerak di lapangan, serta pelaku pasif sebagai simpatisan tapi tidak ikut bergerak.  Di luar itu terdapat kelompok netral yang tidak peduli dan hanya sebagai penonton.  Sedangkan pimpinan massa dapat dilihat dari sifatnya bisa berupa  ide / konsep (massa tak terorganisir) atau manusia (gerakan, memotivasi dan pengendali massa).  Dapat pula diilihat dari fungsinya, yaitu pimpinan yang jadi otak perencanaan, pimpinan yang dapat menggerakan emosi (fase warming up), dan pimpinan yang langsung mengendalikan aksi massa (fase agresif). Faktor yang mendukung terjadinya perilaku kolektif gerakan massa adalah : (1) Propaganda. Suatu teknik (cara,upaya) yang sistimatis dan direncanakan secara mendalam untuk pengaruhi  sikap / pendapat pihak lain. Alat utama dalam propaganda adalah bahasa, yaitu mengaburkan pandangan yang ditunjang bukti / fakta, sehingga dapat mempengaruhi emosi dn sekaligus mengarah pada upaya memberikan  sugesti.  Sementara itu, pemikiran sebenarnya yang didasari pernyataan disembunyikan.  Tujuan propaganada adalah mempengaruhi pandangan hidup, keyakinan publik (meyakini  isi  propaganda) dan tidak memberikan  kesempatan pada publik untuk berpikir panjang untuk membuat alternatif /perbandingan  terhadap pesan propaganda; (2) Agitasi.  Pada dasarnya sama dengan propaganda hanya dalam agitasi bentuknya sudah lebih mengarah pada tindakan menghasut / menganjurkan  tanamkan kebencian kobarkan rasa permusuhan. Hal yang seringkali dengan jalan kekerasam yang biasanya dilakukan oleh organisasi politik yang bertujan menyerang kelemahan lawan pilitiknya; (3)   Public opinion.  Pendapat umum yang diperoleh dari pertimbangan pikiran (diskusi/perdebatan, talkshow dll) yang mengarah pada “keputusan” (pemahaman bersama) tentang sesuatu hal.  Oleh karena itu,  mampu menimbulkan konsesi dan kompromi terhadap sikap-sikap yang bertentangan sehigga dapat mengarahkan kelompok pada tindakan serempak untuk mencapai tujuan bersama;  (4)  Desas-desus / (rumor).  Berita/kabar angin  yang tidak menentu dan tidak jelas, serta kebenarannya sulit dibuktikan.  Penyebarannya bisa dilakukan melaui lisan, tulisan, secara disengaja ataupun  tidak disengaja.  Dalam keadaan tertekan (situasi sosial kritis/ labil) menyebabkan banyak orang menjadi takut dan curiga, sehingga rumor menjadi cepat meluas/menyebar.  Dalam kondisi ini terjadi ketegangan  emossional yang menyebabkan kelabilan pada inidividu, sehingga daya kritiknya jadi menurun.  Rumor menjadisuburu karena adanya kebutuhan, harapan, keingintahuan, ketakutan diatasi dengan ditambah cerita hayal, terutama bila sesuai dengan kepercayaan/keyakinan individu setempat.  Melalui rumor kebencian kembang jadi rasa permusuhan dan bila tidak terkendali bisa menjadi tindakan agresif terhadap individu atau kelompok lain.   Pada masyarakat ataupun individu yang memiliki informasi yang lengkap akan sulit terpengaruh; (5)  Prasangka sosial.  Sikap sosial negatif terhadap orang/kelompok lain seringkali diakibatkan  rasa frustrasi, kepribadian yang kurang matang,  sikap otoriter yang memaksakan kehendaknya sendiri, kurangnya rasa toleransi, kurang mengintrospeksi diri, dan agresif.  Prasangka umumnya mengarah kepada hal-hal yang bersifat negatif sebagai  akibat kurangnya informasi, dan sering dihubungkan dengan kelompok minoritas atau kelompok ethnik tertentu.  Heterogenitas etnik menimbulkan issue kearah prasangka kultural, stereotip dan sangat subjektif.  Memiliki corak menghambat, merugikan, menghancurkan individu/kelompok lain melalui tindakan diskriminatif, scape goating, terutama pada kelompok yang tidak berdaya.
Mengapa massa aktif melakukan berbagai tindakan kekerasan  dalam demonstrasi?  Aksi massa merupakan ekspresi  gerakan kelompok  yang  sudah memiliki  tujuan (arah atau sasaran). Aksi massa biasanya digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan kelompok dengan arah agresi dari  “bawah” ke “atas”.  Dalam konteks ini peran  provokator bukan  hanya sebagai   figur dominan, dapat  juga  berupa figur yang dianggap memiliki kekuatan lebih besar baik dari aspek  sosial, ekonomi, politik.   Oleh karena itu, aksi ini dapat digunakan  sebagai pressure (kelompok yang menekan),  show of force, dan public opinion  yang bersifat fisik. Beberapa faktor yang terdapat pada perilaku kolektif : (1) Kondusifitas struktural (structural conduciveness) merupakan struktur masyarakat yang  dapat mendukung/menghalangi kelompok masyarakat tertentu; (2) Ketegangan struktural (structural strain) perasaan-perasaan kehilangan sesuatu (hak, keistimewaan dsb) pada kalangan  atas berupa rasa ketidakadilan, hajat hidup terancam, sedangkan pada kelas sosial bawah dapat menjadi faktor munculnya ketegangan  struktur pada masyarakat.
Terjadinya pemunculan dan penyebaran pandangan disebabkan adanya persepsi yang sama tentang sumber ancaman, jalan keluar dan pencapaian jalan keluar dalam mengatasi suatu permasalahan.  Faktor pencetus/mempercepat (precipitating factors) seperti teriakan, orang yang lari tiba-tiba dsb. dapat mengawali timbulnya kericuhan pada masyarakat/kerumunan yang sudah memiliki tingkat ketegangan yang tinggi.  Terjadinya mobilisasi  tindakan, umumnya disebabkan dengan adanya pimpinan di lapangan yang mulai  memberikan stimulasi dan mengarahkan kerumunan untuk bergerak menuju sasaran.

Pilihan solusi antisipatif berbasis soft power.
Untuk dapat menggunakan solusi berbasis soft power  diperlukan analisa yang mendalam terhadap kegiatan massa, misalnya mempelajari fenomena, melihat sifat kerusakan, cara, kelompok yang bergabung, simpatisan, tempat, rute, dan situasi yang mempercepat.  Selanjutnya dianalisis pula reaksi sosial terhadap perkembangan situasi tersebut, dengan mempelajari opini yang berkembang di masyarakat, berita di mass media, press release, reaksi dari objek/sasaran.  Informasi yang detail, akurat dan komprehensif ini perlu disintesakan, misalnya melalui kulster genotype (politik, agama, seosial ekonomi, budaya), media (sabotase, intimidasi, provokasi, kudeta, dll), pelaku yang terdiri dari pelaku/penggerak, pelaksana inti, pendukung, simpatisan, kelompok anti dan netral.  Hipotesa sebagai estimasi landasan untuk menentukan langkah selanjutnya
Penanggulangan massa dengan bentuk preventif, dilakukan melalui pendekatan persuasif terhadap pihak bertikai, pencerahan kepada masyarakat untuk meningkatkan tanggung jawab sosial, menghilangkan sumber sterss di masyarakat, dan melaksanakan pengawasan intensif seperti mewaspadai penumpukan massa.  Bila dalam intensitas masih rendah bisa gunakan orang orang yang punya otoritas untuk meredam agresifitas massa.   Tindakan represif diperlukan pada saat intensitas meningkat dimana massa mulai bertindak brutal disertai tindakan yang anarkis biasanya dilakukan tindakan yang sifatnya represif  dengan tujuan menghentikan gerakan, memisahkan  massa dengan sasaran (block / lokalisir /pecahkan /kanalisasi), dan memunculkan kembali kesadaran individu.  Di beberapa negara untuk menghadapi massa yang sudah histeris / brutal dan melakukan tindakan - tindakan anarkis, maka  aparat keamanan     memberikan kekuatan yang “setara” berupa “kejutan”  (rasa sakit, takut dsb) untuk  mengembalikan kesadaran individu, misalnya   menggunakan peluru karet, gas air mata, kanon air dsb.  Tindakan ini dilaksanakan dengan sangat selektif karena dianggap oleh sebagian besar masyarakat saat ini sebagai pelanggaran Ham, namun dilain pihak cara penanganan yang tidak tuntas akan memprovokasi massa (semakin militan).
Pendekatan hard power hanya relevan jika semua pedekatan soft power mengalami kegagalan.  Peran para aktor (K/L/Pemda dan para tokoh, dalam mensosialisasikan cara mengemukakan pendapat sesuai dengan aturan yang berlaku, tata cara demonstrasi yang sesuai dengan aturan yang berlaku, sehingga perilaku massa  tidak mengarah pada tindak kekerasan/destruktif.
Penutup.
Solusi menangani kekerasan massa melalui pendekatan psikologi massa dapat digunakan sebagai salah satu pilihan dalam mendukung keamanan dalam negeri.  Dengan data yang lengkap, akurat dan komprehensif dapat digunakan solusi berbasis soft power yang efektif dan menuntaskan permasalah karena menyentuh pada inti permasalahan serta tidak meninggalkan  trauma  di masyarakat.  Sedangkan Pendekatan hard power merupakan jalan terakhir jika semua pedekatan soft power gagal, karena melalui pendekatan ini akan meninggalkan banyak dampak negatif di masyarakat.
Demikian pokok pokok pikiran tentang alternatif solusi menangani kekerasan massa ditinjau dari perspektif psikologi massa guna menunjang keamanan dalam negeri, semoga dapat menjadi kontribusi bagi pimpinan dan pihak-pihak yang memiliki akses dalam pengambilan keputusan untuk menangani kekerasan massa.




Read more >>

Selasa, 25 Februari 2014

Perilaku Kekerasan di Kalangan Anak & Remaja



Solusi terhadap perilaku kekerasan di kalangan anak dan remaja dalam rangka mewujudkan Ketahanan Nasional yang kokoh



Abstrak

Latar Belakang
Saat ini terjadi peningkatan jumlah perilaku kekerasan yang mengarah kepada tindak kriminalitas. Fenomena yang sering terjadi adalah pemukulan terhadap junior oleh seniornya di lembaga pendidikan, tawuran antara pelajar/mahasiwapertikaian antarkelompok, perusakan terhadap fasilitas umum akibat frustasi, pornografi. Kasus ini banyak terjadi pada remaja. Hal ini menunjukkan telah terjadi pergeseran nilai-nilai di masyarakat. Akumulasi dari perilaku kekerasan seperti di atas berdampak pada ketahanan nasional.
Ketahanan Nasional merupakan muara dari ketahanan individu, ketahanan keluarga, dan ketahanan lingkungan sosial mayarakat.  Ketahanan dimaknai sebagai suatu bentuk ketangguhan sekaligus fleksibilitas untuk tetap mampu survive dan berkembang meskipun harus menghadapi berbagai berbagai permasalahan.  Ketahanan tidak dapat terjadi dengan sendirinya, namun merupakan suatu proses panjang dan latihan yang bertahap, serta berkesinambungan.  
Pengaruh dari lingkungan strategis, secara global, regional dan nasionak turut memberikan pengaruh yang signifikan bagi upaya memperkokoh ketahanan nasional tidak selalu bersifat positif, namun banyak pula yang bersifat negatif.  Meskipun demikian, dengan kemauan dan upaya bersama untuk dapat mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan dengan cara mengembangkan (To promote), melindungi (To protect), dan mengapresiasi (To respect) harkat martabat sesama manusia  dengan leading sector Pemerintah  agar setiap anak dan remaja memiliki ketahan diri, sehingga diyakini akan mampu memberikan solusi terbaik dalam menangani perilaku kekerasan yang kerapkali terjadi saat ini.




Read more >>

Kamis, 13 Februari 2014

Aksi Masa

Menjelang Pemilu tahun 2014 ini diantisipasi akan terjadi kumpulan orang untuk berkampanye, bisa juga aksi-aksi protes massa...mungkin perllu juga yaa buat tulisan tentang pemikiran tentang alternatif solusi dalam menangani kekerasan massa ditinjau dari perspektif psikologi massa.......tunggu bentar yaa sedang ditulis...
Read more >>

Selasa, 07 Mei 2013

Pemeriksaan Psikologi (Psikotest)



Mengenang sesepuh psikologi yang sangat saya hormati & sayangi, serta dijadikan panutan.....berikut salah satu tulisan beliau yang perlu untuk dipahami......


Sekilas tentang Pemeriksaan Psikologi (Psikotest)
Salah Satu Buah Pemikiran Almarhum Brigjen TNI (Purn) Soemarto, Dipl. Psych

Psikotest dapat didefinisikan sebagai suatu metoda untuk mendapatkan suatu sampel tingkah laku seseorang dalam situasi yang standar. Dapat dikatakan juga bahwa test adalah suatu ‘contoh’ tingkah laku dalam situasi. ‘Contoh’ tersebut diregistrasikan sebagai hasil test dan merupakan tingkah laku yang akan selalu ditunjukkan oleh seseorang dalam situasi yang sama. Situasi yang standar diartikan sebagai kondisi-kondisi yang sama bagi semua orang yang ditest. Jadi Psikotest bukanlah dapat disamakan dengan ujian mengenai pengetahuan. Psikotest bukanlah sesuatu yang perlu dipelajari atau dipelajarkan. Banyak orang yang salah mengerti tentang Psikotest, terutama orang-orang yang menganggap test itu dapat dipelajari dan mereka yang berorientasi pada status, bukan prestasi, sehingga mereka berusaha mempelajari Psikotest dengan cara-cara tertentu dan melakukan pemalsuan atau penipuan (cheating) dengan pertolongan seseorang yang sedikit tahu tentang Psikotest atau bahkan dari seorang psikolog yang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian ia mengira akan mempunyai kesempatan untuk maju dalam karirnya. Tetapi dengan demikian justru ia menipu diri sendiri dan merugikan organisasi.
Adapula orang yang merasa takut jika ia diharuskan menjalani pemeriksaan psikologi, karena sebetulnya ia kurang memahami Psikotest secara betul. Mungkin sikap seperti itu juga dibarengi dengan kecurigaan yang berlebihan ataupun rasa kurang pasti pada diri sendiri. Tentu hasil Psikotest mereka itu tidak akan menggambarkan kemampuan yang sebenarnya, dan bahkan hanya memperlihatkan segi tertentu dari watak atau kepribadiannya saja. Oleh karena itu sebaiknya dalam menghadapi Psikotest orang bersikap wajar dan tidak dibuat-buat, namun sungguh-sungguh mengikuti instruksi pengetest atau psikolog yang memeriksanya.
Lain halnya dengan orang yang atas kehendak sendiri meminta bantuan kepada psikolog untuk diperiksa. Ia akan mengahadapi pemeriksaan psikologi dengan sikap yang lebih terbuka. Maka hasil suatu test sangat tergantung pula kepada sikap yang menjalani test di samping kepada situasi pemeriksaannya. Situasi pemeriksaan perlu diciptakan sewajar mungkin dengan kerja sama dan saling mempercayai antara pemeriksa dengan yang diperiksa. Untuk itu diperlukan waktu yang relatif cukup agar psikolog benar-benar dapat menciptakan suasana at ease bagi yang diperiksa. Dengan demikian orang yang meminta bantuannya akan merasa sangat bebas untuk mengutarakan pikiran, pendapat dan perasaannya baik secara lisan maupun tertulis. Suasana yang penuh minat dan kebebasan itu hanya dapat diciptakan oleh psikolog yang terampil dalam menyajikan test yang memenuhi standar. Mahasiswa psikologi biasanya dilatih untuk mengembangkan keterampilan semacam itu.
Namun dewasa ini, di Indonesia ternyata banyak orang bukan psikolog juga memiliki Psikotest dan menggunakannya dalam rangka seleksi, klasifikasi atau penjurusan studi. Sepintas lalu tampaknya memang sangat mudah menggunakan alat pemeriksaan yang disebut Psikotest itu, asal berpedoman kepada instruksi, cara menghitung (menskor) dan mengevaluasi data, yang biasanya lengkap tersedia bersama alat test itu disertai dengan norma dan validitasnya. Mungkin pekerjaan itu dapat disamakan dengan mengukur tekanan darah dengan mudah oleh siapa saja yang cukup cerdik. Akan tetapi sebenarnya pekerjaan semacam itu menuntut selain pengetahuan yang dalam tentang Psikotest juga tanggung jawab profesional dan alangkah naifnya jika tanggung jawab profesional sekaligus sosial itu dikesampingkan begitu saja. Oleh karena itu, orang harus berhati-hati dalam meminta bantuan psikologi dan perlu mewaspadai praktek psikologi yang kurang memperhatikan tanggung jawab profesional dan sosial itu.
Sebaiknya para calon pengguna jasa psikologi meminta penjelasan dulu kepada ‘psikolog’ atau orang yang memakai Psikotest sebagai salah satu cara menjual jasa, tentang curriculum vitae yang bersangkutan, terutama apakah ‘psikolog’ atau oknum lain itu benar-benar mampu dan berwenang untuk melakukan profesinya dengan menggunakan Psikotest. Hal ini penting agar para calon pengguna jasa psikologi tidak terjebak oleh catatan yang tidak bertanggung jawab.
Psikotest dapat dilakukan secara individual dan berkelompok. Pelaksanaan testing yang dilakukan secara individual atau berkelompok (klasikal) harus memperhatikan syarat-syarat tertentu yang standar, seperti ruangan yang cukup penerangannya, mempunyai hawa segar, penyampaian instruksi yang jelas, mudah dimengerti dan lain sebagainya. Kecuali jika ada maksud lain, misalnya menambah stress untuk kepentingan standarisasi dan research.
Kebanyakan orang mengira bahwa Psikotest itu serba mampu mengungkap semua segi kepribadian, dengan lain perkataan tanpa keterbatasan. Sesungguhnya untuk dapat dikatakan bahwa test itu baik, haruslah syarat-syarat berikut ini terpenuhi: yaitu harus reliable, valid dan mempunyai norma atau standar. Apabila semua itu telah dipenuhi, maka sebagai alat ukur Psikotest dapat dianggap objektif. Sekalipun demikian tidak berarti bahwa Psikotest itu sudah ‘sempurna, tanpa kekurangan’ (infallible). Hasil Psikotest dapat menggambarkan tingkah laku seseorang dengan tidak tepat, karena beberapa faktor, yaitu kondisi orang yang diperiksa (misalnya sedang kurang sehat badan, tidak berminat, hendak memperdaya, tidak siap, takut-takut, dan sebagainya). Kondisi orang yang memeriksa (khilaf menskor, tergesa-gesa menyimpulkan, dan sebagainya), kondisi lingkungan fisik yang tidak memenuhi syarat (misalnya kurang penerangan, bising, hawa udara yang tidak segar dan terlalu panas atau dingin, dan sebagainya). Kondisi yang ideal memang sejauh mungkin diciptakan agar dapat dikatakan standar, sehingga  hasil Psikotest dapat lebih dipertanggungjawabkan. Kiranya dengan demikian dapat dijelaskan, bahwa melakukan pemeriksaan psikologi itu tidak sembarangan dan sebaiknya pemakainya/pelakunya                    mempunyai latar belakang pendidikan psikologi yang formal dan dapat dipertanggungjawabkan.
Membuat Psikotest adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah. Prosedur kerjanya cukup panjang dan memerlukan kecakapan tertentu yang dilandasi oleh pengetahuan statistik dan teori psikologi yang mendalam. Prinsip-prinsip dan prosedur konstruksi Psikotest diajarkan di fakultas psikologi, disertai latihan-latihan yang diperlukan. Test yang telah diciptakan selama ini mungkin sampai kepada jumlah ribuan, namun test yang baik dan sering digunakan/dianjurkan tidak banyak jumlahnya. Di Indonesia tentu pula telah beredar Psikotest yang berasal dari luar negeri. Test tersebut belum tentu seluruhnya telah distandarisasikan, bahkan divalidasikan sesuai prosedur konstruksi test yang lazim. Oleh karena itu para pengguna jasa psikologi perlu waspada terhadap penggunaan test yang belum memenuhi syarat-syarat reliability, validity dan standar atau norma yang diperlukan.
Validity adalah hal yang terpenting untuk diperhatikan dalam konstruksi dan penggunaan semua tipe test. Validity selalu dihubungkan dengan pertanyaan: “Test ini mengukur apa?” Selanjutnya perlu dijawab pula pertanyaan: “Apa arti suatu skor?” dan “Skor ini bercerita tentang apa?” atau “Dengan apa skor pada test ini dapat dihubungkan?” Dalam tulisan ini tidak akan diterangkan sampai terperinci tentang validity suatu test, namun masih perlu diketahui bahwa ada tiga macam validity, yaitu content, criterion dan construct validity. Content validity hendaknya jangan dikacaukan dengan face validity, suatu istilah yang digunakan untuk menunjuk kepada kesan seseorang bahwa test itu ‘relevan’. Ada dua jenis criterion validity, yaitu concurrent validity dan predictive validity. Untuk construct validity perlu dibedakan pula dalam convergent validity dan discriminant validity.
Apabila validity menerangkan hubungan antara hasil-hasil test dan kriteria-kriteria di luar test itu sendiri, maka reliability  lebih menerangkan hubungan-hubungan di dalam test itu sendiri. Jadi prosedur penilaian yang disebut reliability itu menjelaskan kecermatan dan keajegan (konsistensi) hasil yang diukur oleh suatu test. Skor sebagai hasil suatu test hendaknya bebas dari pengaruh-pengaruh penentu lain secara kebetulan, sehingga skor itu dapat dipercaya. Istilah lain untuk reliability seperti yang digunakan oleh Cronbach (1970), ialah generalizability.
Standar atau norma diperlukan agar orang dapat mengerti arti suatu skor yang diperoleh seseorang pada test tertentu. Dengan norma itu orang dapat membandingkan kedudukan skor itu dalam populasi di mana test itu distandarisasikan. Dalam proses interpretasi, skor mentah perlu ditransformasikan kedalam bermacam-macam jenis. Sekedar untuk pengetahuan saja dikemukakan di sini bahwa ada dua jenis transformasi, yaitu percentile score dan standard score. Selain yang penting itu masih ada norma lain, seperti stanine, Wechsler IQ’s, sedangkan TNI AD menggunakan variasi dari standard score (z-Score) yang dinamakan ‘kelas angka’ (punten klasse). Dengan cara pembuatan standar atau norma berdasarkan kelompok tertentu, misalnya kelompok Perwira, Bintara dan Tamtama, atau kelompok pendidikan, misalnya Akmil, Selapa, Seskoad, maka setiap skor yang diperoleh seorang testee dapat diartikan dalam konteks kelompok tertentu. Di USA ada jenis-jenis standard scores seperti CEEB (College Entrance Examination Board) Scores dan AGCT (Army General Classification Test) Scores.
Pembuatan norma untuk objective test (test intelegensi) relatif lebih mudah daripada untuk projective test (test kepribadian), jenis test kepribadian yang menggunakan kuesioner yang sering dinamakan ‘inventories’ masih termasuk objective test. Namun projective test seperti Rorschach, Thematic Apperception Test, Wartegg Zeichen Test, Baum Test, masih lebih sulit prosedur pembuatan normanya karena faktor-faktor lingkungan terutama budaya dan nilai-nilai sosial, serta banyak makna simbolik yang perlu diperhitungkan. Pengalaman klinik para ahli di bidang psikologi ikut menentukan dalam pembentukan kemampuan mengintrepretasikan symptom-symptom yang muncul pada hasil pemeriksaan psikologi yang bersangkutan.
Untuk mendapatkan validity coefficient, reliability coefficient dan pembuatan standar atau norma diperlukan perhitungan statistic. Untuk itu pula diperlukan penguasaan metoda psikometrik, terutama dalam konstruksi test objektif. Menggunakan test yang telah ‘jadi’ memang tampak mudah, namun seorang ahli di bidang psikologi pasti dan harus mengetahui serta menguasai prosedur konstruksi test objektif agar benar-benar bertanggung jawab dalam melakukan profesinya.
Mengingat bahwa hingga saat ini masih banyak orang yang menanyakan cara-cara menghadapi Psikotest, maka berikut ini kami sampaikan beberapa tips yang dapat dilakukan berkaitan dengan Psikotest.
1.             Harus cukup istirahat/tidur sebelum pelaksanaan Psikotest. Hal ini penting dilakukan untuk menghimpun energi yang dapat meningkatkan konsentrasi.
2.             Percaya pada kemampuan diri  sendiri. Tidak perlu kasak-kusuk yang justru dapat mengakibatkan timbulnya kebingungan/ketegangan, apalagi bila informasi yang diperoleh ‘menyesatkan’.
3.             Perhatikan instruksi yang diberikan oleh testor (pengetest). Bila belum jelas, bertanyalah pada testor sebelum waktu untuk mengerjakan test dihitung.
4.             Kerjakan materi test seoptimal mungkin, sesuai dengan petunjuk/ instruksi testor. Penyimpangan terhadap instruksi dapat mengakibatkan kesalahan dalam proses pengerjaan.
5.             Pusatkan seluruh perhatian dan pikiran pada materi yang dikerjakan. Dengan demikian maka energi yang dimiliki dapat dimanfaatkan dengan optimal.
6.             Periksa kembali apa yang sudah dikerjakan, apabila waktunya masih ada (belum ada aba-aba “selesai” / “berhenti”). Hal ini memungkinkan kita untuk mengoreksi/memeriksa kembali jawaban yang diberikan dengan lebih teliti.
Read more >>